Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Ini Dia Alasan Kenapa Orang yang Tinggal di Kota Lebih Mudah Terkena Gangguan Mental

Ghina Fadiah Rahma • Senin, 9 Juni 2025 | 09:00 WIB

Gangguan kesehatan mental (Dok. Pexels)
Gangguan kesehatan mental (Dok. Pexels)

JP Bogor - Hiruk-pikuk kota memang menyimpan pesona tersendiri. Gedung pencakar langit, lampu-lampu jalan yang tak pernah padam, serta deretan kafe kekinian yang selalu ramai pengunjung membuat hidup di kota terlihat penuh warna. Namun, di balik gemerlapnya, kota juga menyimpan sisi gelap yang tak banyak dibicarakan: risiko gangguan mental yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tinggal di pedesaan.

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang hidup di kota besar memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami kecemasan, depresi, dan stres kronis. Salah satu pemicunya adalah tekanan sosial yang intens. Di kota, segala hal berjalan cepat dan kompetitif. Semua orang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, membuat standar hidup seolah-olah menjadi tidak manusiawi.

Baca Juga: 12 Tips Praktis Menyusun List Perlengkapan Traveling agar Efisien dan Anti Ribet!

Tak hanya itu, kota sering kali menghadirkan rasa kesepian di tengah keramaian. Meskipun dikelilingi oleh ribuan orang setiap hari, hubungan yang terbentuk cenderung bersifat dangkal dan terburu-buru. Banyak yang merasa sulit menemukan koneksi emosional yang tulus, padahal dukungan sosial adalah salah satu pilar penting dalam menjaga kesehatan mental.

Lingkungan kota yang padat juga berkontribusi pada tekanan psikologis. Tinggal di tempat yang sempit, bising, dan minim ruang hijau membuat otak tidak memiliki ruang untuk bernapas. Paparan suara klakson, sirine, dan keramaian jalan terus-menerus tanpa jeda bisa mengganggu sistem saraf, mempercepat denyut jantung, dan meningkatkan hormon stres.

Belum lagi soal polusi udara dan cahaya. Kota besar cenderung dipenuhi dengan asap kendaraan dan cahaya buatan yang berlebihan. Tanpa disadari, kualitas udara yang buruk bisa mempengaruhi fungsi otak, sementara cahaya buatan pada malam hari bisa mengganggu ritme tidur alami tubuh. Kurang tidur secara konsisten adalah pemicu utama gangguan suasana hati.

Faktor ekonomi juga memainkan peran penting. Tingginya biaya hidup di kota memaksa banyak orang bekerja lebih keras, bahkan kadang sampai mengorbankan waktu istirahat. Tekanan untuk selalu produktif tanpa henti bisa berubah menjadi kelelahan mental, bahkan burnout. Istilah “hustle culture” yang populer di kalangan anak muda kota justru seringkali meromantisme stres.

Media sosial juga memperparah keadaan. Akses yang lebih cepat terhadap internet dan gawai membuat warga kota lebih sering terpapar konten yang membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain. Rasa tidak puas terhadap diri sendiri, iri, dan perasaan tertinggal menjadi lebih sering muncul, terutama di kalangan generasi muda.

Selain itu, akses terhadap alam yang terbatas menjadikan kota kurang ramah bagi kesehatan jiwa. Penelitian membuktikan bahwa berada di alam terbuka dapat menurunkan tingkat kortisol (hormon stres) dan meningkatkan rasa bahagia. Sayangnya, ruang hijau di kota semakin sedikit atau tidak mudah dijangkau oleh semua kalangan.

Budaya kota yang menuntut individualisme dan pencapaian juga menciptakan tekanan tersendiri. Tak sedikit orang merasa harus terus "berhasil" demi validasi sosial. Kegagalan seolah menjadi aib yang harus disembunyikan, bukan pelajaran yang bisa diterima. Hal ini memicu perasaan tidak cukup baik dan kecemasan yang berulang.

Minimnya waktu berkualitas bersama keluarga dan teman dekat turut memperburuk kondisi mental masyarakat kota. Aktivitas harian yang padat membuat hubungan personal terabaikan. Padahal, interaksi yang hangat dan penuh empati sangat penting untuk menjaga stabilitas emosional seseorang.

Namun, bukan berarti tinggal di kota selalu identik dengan gangguan mental. Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan jiwa sudah mulai tumbuh di kalangan masyarakat urban. Banyak komunitas yang fokus pada isu mental health, serta berbagai ruang aman yang menyediakan layanan konseling dan edukasi.

Kuncinya adalah keseimbangan. Meskipun hidup di kota penuh tekanan, setiap orang tetap bisa membangun rutinitas sehat dan lingkungan suportif yang bisa menjadi benteng pertahanan bagi kesehatan mental mereka. Karena pada akhirnya, kesehatan jiwa adalah pondasi utama untuk menjalani hidup yang bermakna dimanapun kita tinggal.

Baca Juga: Mengenal Perbedaan Water Resistant, Water Repellent, dan Waterproof untuk Perlindungan yang Tepat

Editor : Candra Mega Sari
#kota #kesehatan mental #alasan