JP Bogor - Cinta, dalam bentuknya yang paling murni, seharusnya membuat kita tumbuh. Ia memberi ruang untuk bernapas, berkembang, dan merasa aman. Namun, bagaimana jika cinta justru berubah menjadi jerat yang membuat kita kehilangan jati diri? Di sinilah kita perlu mengenal istilah Obsessive Love Disorder atau OLD, sebuah kondisi ketika cinta bukan lagi soal memberi, melainkan tentang kepemilikan dan ketergantungan ekstrem.
OLD bukan sekadar rasa cinta yang mendalam. Ia adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan obsesi berlebihan terhadap seseorang, dimana penderitanya merasa tidak bisa hidup tanpa kehadiran orang yang dicintai. Ini bukan kisah cinta romantis ala film drama. Ini adalah cerita tentang kehilangan kendali.
Seseorang yang mengalami OLD mungkin akan terus-menerus mengirim pesan, menelepon berkali-kali, atau merasa curiga berlebihan jika pasangannya tidak merespons dengan cepat. Dalam pandangan mereka, cinta berarti pengawasan, bukan kepercayaan. Sayangnya, banyak yang salah mengira perilaku ini sebagai bentuk kasih sayang yang intens, padahal sesungguhnya itu adalah alarm bahaya.
Gejala OLD bisa muncul secara halus. Mulai dari perasaan cemburu yang tidak masuk akal, kecenderungan mengisolasi pasangan dari lingkungan sosial, hingga keinginan untuk selalu tahu semua aktivitas pasangannya. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berubah menjadi bentuk kekerasan emosional, bahkan fisik.
Penting untuk dibedakan antara cinta sejati dan cinta yang bersifat obsesif. Cinta sejati menciptakan kebebasan, sedangkan cinta obsesif menuntut penguasaan. Ketika kamu mulai merasa bahwa hidupmu hanya bermakna jika ada “dia”, mungkin sudah saatnya kamu bertanya: apakah ini benar-benar cinta, atau hanya ketakutan akan kehilangan?
Tak jarang, orang yang mengalami OLD memiliki latar belakang trauma, seperti penolakan di masa lalu, kehilangan, atau pengalaman cinta yang penuh luka. Akibatnya, mereka membangun mekanisme pertahanan dalam bentuk kontrol dan keterikatan berlebihan. Tanpa disadari, mereka menjadikan pasangan sebagai “pelampiasan” atas rasa takut yang belum selesai.
Media sosial juga berperan dalam memperparah kondisi ini. Algoritma yang menyajikan kisah cinta sempurna, pasangan serasi, sehingga standar romantisme toksik seringkali membuat orang berpikir bahwa obsesif itu normal, bahkan romantis. Padahal, hubungan sehat tidak dibangun dari rasa takut kehilangan, melainkan dari saling percaya dan saling memberi ruang.
Jika kamu merasa terjebak dalam hubungan yang penuh tekanan dan tuntutan, atau merasa sangat bergantung secara emosional pada satu orang, penting untuk mulai refleksi. Cobalah untuk mengenali perasaanmu, dan tanyakan pada diri sendiri “Apakah aku mencintai dia, atau aku hanya takut kehilangan dia?”
Terapi psikologis bisa menjadi langkah awal untuk keluar dari jerat ini. Dengan bantuan profesional, kamu bisa belajar membedakan antara rasa cinta yang sehat dan cinta yang membelenggu. Membangun kembali kepercayaan pada diri sendiri adalah kunci untuk lepas dari ketergantungan emosional yang merusak.
Tak kalah penting, dukungan dari orang terdekat juga memainkan peran besar. Berani membuka diri dan menceritakan apa yang sedang kamu alami bisa menjadi titik balik untuk sembuh. Ingat, kamu berhak mencintai dan dicintai tanpa harus kehilangan dirimu sendiri.
Pada akhirnya, cinta yang sehat bukan tentang memiliki, tapi tentang berbagi. Ia bukan soal melekat erat tanpa jarak, tapi berjalan beriringan sambil tetap menjadi diri sendiri. Jadi, jika kamu sedang bertanya, “Ini cinta atau ketergantungan?” mungkin, sudah saatnya kamu mencintai dirimu lebih dulu. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah