JP Bogor - Hubungan antara ibu dan anak laki-laki sering kali tampak istimewa. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa anak laki-laki adalah "anak mama", dan ungkapan ini bukan tanpa alasan.
Banyak laki-laki tumbuh dengan rasa kasih sayang mendalam terhadap ibunya, bahkan hingga dewasa. Sebenarnya, apa yang membuat ikatan ini begitu kuat dan berbeda dibanding hubungan dengan ayah?
Sejak dalam kandungan, ibu menjadi sosok pertama yang dirasakan kehadirannya oleh sang anak. Detak jantung, suara, dan bahkan suasana hati ibu bisa mempengaruhi janin. Kedekatan ini tidak berhenti saat anak lahir, justru semakin dalam seiring waktu karena peran ibu sebagai pengasuh utama pada masa awal kehidupan.
Secara psikologis, ibu biasanya lebih ekspresif dalam menunjukkan kasih sayang. Pelukan, belaian, dan kata-kata lembut menjadi makanan sehari-hari anak laki-laki dari ibunya. Hal ini menciptakan rasa aman dan nyaman yang sulit ditandingi oleh sosok lain, termasuk ayah yang mungkin cenderung lebih kaku dalam menunjukkan emosi.
Anak laki-laki, meski kelak tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mandiri, pada masa kecilnya sangat membutuhkan kedekatan emosional. Ibu hadir sebagai figur yang memahami, merawat, dan memberi ruang untuk mengekspresikan perasaan tanpa dihakimi. Inilah yang membentuk dasar hubungan yang hangat antara keduanya.
Di usia sekolah, anak laki-laki cenderung mencari sosok yang bisa dijadikan tempat berkeluh kesah. Meski mereka belajar menjadi tangguh, tetap ada sisi lembut yang hanya bisa ditunjukkan pada orang yang dipercaya sepenuhnya, dan bagi banyak anak laki-laki, itu adalah ibunya.
Selain itu, ibu sering kali menjadi "jembatan komunikasi" dalam keluarga. Jika ada konflik dengan ayah atau anggota keluarga lain, ibu biasanya menjadi penengah yang sabar dan bijak. Ini memperkuat posisi ibu sebagai tempat perlindungan emosional.
Secara budaya, di banyak masyarakat, laki-laki diajarkan untuk tidak terlalu menunjukkan emosi. Namun di balik topeng ketegaran itu, mereka tetap membutuhkan ruang untuk menjadi rentan. Sosok ibu memberi izin untuk menangis, mengeluh, dan merasa takut tanpa rasa malu.
Bahkan ketika anak laki-laki tumbuh dewasa, banyak dari mereka yang tetap menjadikan ibunya sebagai tempat bertanya, minta nasihat, atau sekadar berbagi kabar. Meskipun sudah mandiri dan mungkin memiliki pasangan, hubungan dengan ibu tetap terasa spesial dan tak tergantikan.
Tidak jarang, hubungan ini juga dipengaruhi oleh pengalaman pribadi. Anak laki-laki yang dibesarkan oleh ibu tunggal, misalnya, biasanya memiliki ikatan yang lebih kuat karena keduanya saling menjadi sandaran satu sama lain sejak awal.
Namun penting untuk diingat, kedekatan ini bukan berarti hubungan dengan ayah tidak penting. Justru keseimbangan antara figur ibu dan ayah sangat dibutuhkan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang utuh. Tapi dalam banyak kasus, sentuhan lembut ibu-lah yang meninggalkan kesan mendalam di hati anak laki-laki.
Jika kamu melihat seorang pria dewasa yang sangat menyayangi ibunya, jangan langsung menyebutnya “anak mama” dengan nada negatif. Bisa jadi, itu adalah bukti dari hubungan tulus yang dibangun sejak kecil, ikatan yang kuat, sehat, dan patut diapresiasi. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah