JP Bogor - Tahukah kalian jika setiap tanggal 27 April diperingati sebagai Hari Sandi Morse? Adanya hari peringatan ini adalah untuk menghormati Samuel Morse sebagai penemu kode ini pada tahun 1830-an untuk listrik telegrafi. Sandi morse yang ditemukan Samuel Morse ini kemudian disempurnakan secara lebih jauh oleh ilmuwan dan pengusaha Amerika, Alfred Lewis Vail yang merupakan asisten dan mitra Morse.
Sandi morse ini menjadi cikal bakal berkembangnya komunikasi, sandi morse yang awalnya hanya memadai untuk mengirim pesan dalam bahasa Inggris karena tidak memiliki kode untuk huruf dengan tanda diakritik. Setelah diperkenalkan di Eropa, lahirlah Kode Morse Internasional yang dirancang oleh konferensi negara-negara Eropa pada tahun 1851 dan disebut sebagai Kode Morse Kontinental.
Suksesnya sandi morse ini meningkatkan minat dan kebutuhan masyarakat akan komunikasi instan, dari sinilah akhirnya terciptanya telepon oleh ilmuwan Skotlandia Alexander Graham Bell. Dan pada tahun 1960 NASA meluncurkan satelit Echo untuk komunikasi radio dan satelit aktif repeater pertama. Dua tahun setelahnya NASA meluncurkan satelit relai langsung, yang merupakan pertama di dunia untuk komunikasi komersial.
Beberapa tahun setelahnya komunikasi menjadi lebih mudah dengan hadirnya internet, walaupun pada awalnya ini terbatas hanya untuk universitas dan peneliti. Kemudian ini semakin berkembang dan hadirlah sistem seluler analog yang generasi pertamanya adalah 1G, setelah teknologi semakin maju dan berkembang terjadilah peralihan dari analog ke digital.
Dengan beralihnya analog ke digital ini membuat kita bisa melakukan streaming video dan mendengarkan musik melalui handphone. Setelahnya data seluler berkembang cepat dan hadirlah perangkat iOS dan Android pertama dan jaringan 4G.
Untuk beberapa daerah, saat ini bahkan sudah mendukung jaringan 5G. Meski belum merata di semua wilayah, perkembangan komunikasi telah melaju sangat pesat. Jika menilik dari awal kemunculan sandi Morse yang hanya mengandalkan kombinasi titik dan garis, kini kita bahkan bisa berkomunikasi lintas negara tanpa hambatan berarti.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah