Stoikisme mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan hidup pada keinginan-keinginan duniawi. Filosofi ini juga menekankan pentingnya tidak terus-menerus berkeluh kesah terhadap setiap situasi yang dihadapi, sebab pada hakikatnya, sebagian besar kejadian adalah bagian dari takdir yang tak terhindarkan.
Paham ini mendorong setiap individu untuk tidak terlarut dalam kesedihan atau penderitaan yang sebetulnya merupakan ketetapan Ilahi sebelum mereka dilahirkan. Stoikisme ingin agar manusia senantiasa bersyukur atas segala peristiwa dan menerima setiap kondisi yang sedang dijalani.
Orang-orang penganut Stoikisme meyakini bahwa emosi negatif yang dapat merusak diri berasal dari keputusan yang keliru. Maka, seorang bijak (sophis) dalam pandangan Stoik bukanlah sosok yang mudah terpancing amarah atau larut dalam kesedihan berlebihan.
Seperti yang diungkapkan oleh Epictetus, seorang Stoik tidak banyak berbicara tentang hal-hal rumit atau besar kepada orang lain, melainkan selalu berusaha bertindak selaras dengan apa yang mereka pikirkan tentang kebaikan.
Inilah mungkin alasan mengapa Stoikisme dianggap sebagai filosofi yang baik untuk dipraktikkan saat ini. Seperti yang kita ketahui, banyak orang cenderung bereaksi berlebihan terhadap berbagai hal belakangan ini. Perilaku ekstrem inilah yang justru dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dengan mencoba menerapkan prinsip-prinsip Stoikisme, kehidupan seseorang mungkin akan jauh lebih tenang.
Pemahaman Stoikisme juga memiliki beberapa poin utama. Di antaranya adalah berupaya untuk fokus hanya pada hal-hal yang berada dalam kendali kita. Tindakan ini bertujuan untuk menjaga kesehatan mental dan menghindari dampak negatif.
Selain itu, Stoikisme mengajarkan untuk menghargai segala sesuatu. Penganutnya senantiasa mengapresiasi hal-hal di sekitar yang berada kehidupan mereka, karena hal ini akan menumbuhkan rasa bahagia dan penerimaan terhadap garis takdir yang sudah ada.
Editor : Candra Mega Sari