Gambar yang dihasilkan AI dianggap kurang bernilai karena dihasilkan dari kalimat prompt, bukan dari kreativitas seniman.
Selain itu, muncul kekhawatiran terkait pelanggaran hak cipta dan kurangnya apresiasi terhadap bakat yang dikembangkan dengan susah payah. Jika diamati secara detail, gambar AI seringkali terlihat tidak rapi dan mudah dikenali jika gambar itu bukan hasil kreativitas manusia.
Penggunaan AI dalam seni sebenarnya sah-sah saja asalkan tidak melanggar hak cipta atau hak kekayaan intelektual. Namun, kasus nyata seperti larangan Getty Images terhadap ilustrasi AI dari DALL-E, Midjourney, dan Stable Diffusion menunjukkan adanya masalah dalam hal ini. Selain gambar, AI juga digunakan untuk membuat cover lagu dengan suara yang terdengar dipaksakan.
Penggiat seni dalam karyanya bukan hanya menunjukkan hasilnya, namun seringkali mereka membagikan pesan atau proses yang mereka lewati dalam pembuatan karya mereka. Hal inilah yang membuat suatu karya seni menjadi bernilai, yaitu proses panjang dan kreativitas seniman.
Mereka meyakini bahwa seni bukan sekadar produk, tetapi juga sarana untuk mengekspresikan diri dari pesan yang terkandung dalam karya seni.
Polemik penggunaan AI dalam seni mengingatkan kita akan pentingnya apresiasi terhadap karya seni yang dihasilkan manusia. Esensi karya seni terletak pada proses, kreativitas, dan emosi, bukan hanya hasil akhir.
Editor : Candra Mega Sari