Kesepian di Era Digital: Bagaimana Hubungan Parasosial Mempengaruhi Kehidupan Seseorang
Talitha Sakha Althafah• Senin, 17 Maret 2025 | 21:00 WIB
Ilustrasi kesepian di era digital. (Pexels)
JP Bogor - Di era digital, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Platform ini memungkinkan kita untuk terhubung dengan siapa saja, kapan saja. Namun, kemudahan ini juga dapat membuat kita semakin terisolasi dari kehidupan nyata dan memicu perasaan kesepian.
Salah satu fenomena yang muncul akibat perkembangan media sosial adalah hubungan parasosial—ikatan emosional sepihak yang terbentuk dengan selebriti, influencer, karakter fiksi, atau bahkan orang biasa yang aktif membagikan kehidupan pribadinya di media sosial. Hubungan ini bisa memberikan dampak positif maupun negatif, tergantung pada bagaimana kita menghadapinya.
Dari sisi positif, hubungan parasosial dapat menjadi sumber inspirasi, motivasi, dan hiburan bagi banyak orang. Namun, di sisi lain, ketergantungan yang berlebihan pada hubungan ini justru dapat memperdalam rasa kesepian. Penelitian yang dilansir dari Neuroscienceof menunjukkan adanya keterkaitan antara kesepian dan hubungan parasosial, di mana seseorang yang merasa terisolasi cenderung lebih mudah membentuk ikatan emosional sepihak dengan figur publik.
Fenomena ini dapat diibaratkan seperti kehilangan seseorang yang kita sayangi—otomatis kita akan merindukannya. Namun, dalam hubungan parasosial, ikatan tersebut hanya terjadi dalam pikiran kita. Profesor Kurt Gray dalam bukunya The Mind Club mengungkapkan bahwa "Kesepian dapat membuat seseorang membayangkan kasih sayang dengan orang lain, meskipun itu hanya ada dalam imajinasi mereka".
Fenomena ini juga dapat dikaitkan dengan konsep rental pasangan yang sempat populer, di mana seseorang membayar untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang, meskipun hanya bersifat sementara. Dalam konsep ini, interaksi yang terjadi bukan berdasarkan ketulusan, melainkan transaksi. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin tidak menjadi masalah, meskipun mereka sadar bahwa kehangatan yang dirasakan hanyalah ilusi yang diciptakan dalam pikiran mereka sendiri.
Pada akhirnya, hubungan parasosial adalah pedang bermata dua. Jika dikelola dengan bijak, ia bisa menjadi sumber hiburan dan inspirasi. Namun, jika terlalu bergantung, kita justru berisiko terjebak dalam perasaan kesepian yang semakin mendalam.