JP Bogor - Depresi adalah kondisi kesehatan mental umum yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Kondisi ini lebih dari sekadar perasaan sedih sesaat, tetapi melibatkan perasaan sedih yang terus-menerus dan kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari. Depresi dapat memengaruhi pikiran, perasaan, dan kemampuan seseorang untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Satu di antara masalah kesehatan utama yang sering terjadi bersamaan dengan depresi adalah penyakit kronis. Penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, dan artritis, ternyata lebih mungkin terjadi pada individu yang mengalami depresi. Kondisi depresi dan penyakit kronis ini sering kali saling memperburuk, sehingga membuat penanganannya semakin kompleks.
Dilansir dari parade.com pada Sabtu (22/2), sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Medicine meneliti kesehatan lebih dari 172.000 relawan selama enam tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang mengalami depresi sudah memiliki 50% lebih banyak kondisi daripada mereka yang tidak mengalaminya (rata-rata tiga berbanding dua). Selain itu, individu yang mengalami depresi juga mengalami peningkatan masalah kesehatan tambahan dengan kecepatan yang lebih tinggi, yakni rata-rata 0,2 kondisi tambahan setiap tahunnya.
Meningkatnya Risiko Penyakit Kronis pada Penderita Depresi
Depresi tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit kronis. Individu dengan depresi cenderung memiliki gaya hidup kurang sehat, seperti minimnya aktivitas fisik dan pola makan yang buruk. Faktor-faktor ini menjadi pemicu utama berbagai penyakit kronis.
Beberapa kondisi kesehatan yang paling sering dilaporkan pada penderita depresi menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami gangguan tersebut. Misalnya, 15,7% individu dengan depresi diketahui menderita osteoartritis, sementara pada mereka yang tidak mengalami depresi, angkanya hanya 12,5%.
Hal serupa juga terjadi pada hipertensi, di mana 12,9% penderita depresi mengalaminya, dibandingkan dengan 12% dari mereka yang tidak depresi. Selain itu, hampir 14% individu dengan depresi mengalami penyakit refluks gastroesofageal (GERD), sedangkan pada kelompok tanpa depresi, angkanya hanya 9,6%.
Selain itu, depresi juga berdampak pada sistem kekebalan tubuh dengan meningkatkan peradangan. Peradangan kronis ini telah dikaitkan dengan berbagai penyakit serius, seperti penyakit jantung dan diabetes. Selain itu, perubahan hormonal akibat depresi dapat semakin memperbesar risiko berkembangnya penyakit kronis.
"Orang yang pernah mengalami depresi lebih mungkin mengembangkan kondisi kesehatan fisik jangka panjang seperti penyakit jantung dan diabetes; namun, sistem perawatan kesehatan yang ada dirancang untuk menangani kondisi individual, bukan menangani orang-orang dengan berbagai kondisi," kata penelitian tersebut dalam siaran pers.
Pentingnya Pendekatan Kesehatan Terpadu dalam Menangani Depresi dan Penyakit Kronis
Mengingat eratnya kaitan antara depresi dan penyakit kronis, penerapan pendekatan kesehatan terpadu menjadi sangat penting. Pendekatan ini mengintegrasikan perawatan kesehatan mental dan fisik untuk memastikan bahwa setiap individu mendapatkan penanganan yang komprehensif sesuai dengan kebutuhan mereka.
Perawatan terpadu dapat melibatkan kolaborasi antara dokter penyakit dalam, psikiater, psikolog, dan profesional kesehatan lainnya. Tim kesehatan ini bekerja sama untuk mengembangkan rencana perawatan yang mengatasi baik depresi maupun penyakit kronis yang mungkin ada. Pendekatan ini dapat mencakup pengobatan, terapi, perubahan gaya hidup, dan dukungan sosial.
Karena depresi dan penyakit kronis sering kali saling memengaruhi, memahami hubungan keduanya menjadi kunci dalam memberikan perawatan yang optimal. Pendekatan yang menggabungkan aspek mental dan fisik terbukti mampu meningkatkan kesehatan serta kualitas hidup individu yang berjuang menghadapi kedua kondisi ini.
Menurut penelitian, layanan kesehatan perlu menerapkan pendekatan terpadu dalam merawat pasien yang mengalami depresi dan penyakit kronis jangka panjang. Hal ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa individu mendapatkan dukungan yang tepat untuk menjalani hidup yang lebih sehat.
Penting untuk diingat bahwa depresi adalah kondisi yang dapat diobati. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami gejala depresi atau penyakit kronis, segera cari bantuan profesional. Dengan penanganan yang tepat, individu dapat mengelola kondisi mereka dan menjalani hidup yang sehat dan bermakna. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah