Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Ragam Jamur di Hidung Picu Alergi? Peneliti Ungkap Fakta Baru yang Mengejutkan

Aunur Rahman • Senin, 10 Februari 2025 | 09:30 WIB
Ilustrasi alergi hidung. (Freepik)
Ilustrasi alergi hidung. (Freepik)

JP Bogor - Alergi hidung adalah masalah kesehatan yang banyak dialami orang di seluruh dunia. Kondisi ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari karena menyebabkan gejala seperti bersin-bersin, hidung tersumbat, dan pilek. Penelitian terbaru mengungkap bahwa mikroorganisme di dalam hidung, khususnya jamur, berperan dalam munculnya alergi ini.

Dikutip dari frontiersin.org Minggu (9/2), sebuah studi inovatif menemukan bahwa jenis dan jumlah jamur yang hidup di hidung seseorang dapat memengaruhi tingkat keparahan gejala alergi. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Microbiology ini memberikan wawasan baru tentang cara memahami dan mengatasi alergi hidung.

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa mikrobioma hidung—yaitu kumpulan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur—memiliki peran penting dalam kesehatan pernapasan. Namun, bagaimana tepatnya jamur memengaruhi alergi hidung masih menjadi misteri. Penelitian ini membantu menjelaskan hubungan tersebut.

Dalam studi ini, para peneliti menganalisis sampel jamur dari hidung orang yang memiliki alergi dan yang tidak. Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan alergi cenderung memiliki lebih sedikit variasi jenis jamur di hidung mereka. Selain itu, komunitas jamur dalam hidung mereka lebih didominasi oleh jenis tertentu dibandingkan dengan orang tanpa alergi.

Pada individu tanpa alergi, jamur seperti Aspergillus dan Penicillium lebih umum ditemukan. Kedua jenis jamur ini diketahui menghasilkan senyawa antiinflamasi yang dapat membantu melindungi tubuh dari reaksi alergi.

Sebaliknya, individu yang mengalami alergi cenderung memiliki jumlah jamur Alternaria dan Cladosporium yang lebih tinggi. Kedua jenis jamur ini telah diketahui dapat memicu respons alergi, sehingga memperparah gejala yang dialami.

Temuan ini menimbulkan pertanyaan penting tentang hubungan sebab akibat. Apakah keragaman jamur yang rendah menyebabkan alergi, ataukah sebaliknya?

Untuk menjawabnya, penelitian lebih lanjut masih diperlukan. Namun, studi ini sudah memberikan bukti kuat tentang keterkaitan antara mikrobioma jamur di hidung dengan alergi.

Hasil penelitian ini membuka peluang bagi pengembangan terapi alergi yang lebih inovatif. Salah satu pendekatan yang tengah dikembangkan adalah manipulasi mikrobioma hidung menggunakan probiotik jamur. Dengan cara ini, diharapkan dapat membantu mencegah atau mengurangi reaksi alergi secara alami dan lebih efektif. Namun demikian, konsep ini masih memerlukan penelitian mendalam lebih lanjut.

Selain itu, studi ini juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan mikrobioma hidung. Faktor seperti polusi udara, konsumsi antibiotik, dan pola makan yang kurang sehat dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme di hidung. Ketidakseimbangan ini bisa meningkatkan risiko alergi dan masalah pernapasan lainnya.

Penelitian ini merupakan langkah awal dalam memahami hubungan antara mikrobioma jamur dan alergi. Hasilnya menunjukkan bahwa mikroorganisme di hidung jauh lebih kompleks dan berpengaruh terhadap kesehatan dari yang sebelumnya diperkirakan.

Dengan semakin berkembangnya riset mengenai mikrobioma manusia, masa depan pengobatan alergi mungkin akan lebih fokus pada pendekatan yang bersifat holistik dan personalisasi.

Setiap individu memiliki mikrobioma yang unik, sehingga terapi yang lebih spesifik dan sesuai dengan kondisi masing-masing akan menjadi tren utama dalam pengobatan alergi di masa depan.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#alergi #hidung #jamur #penelitian #mikrobioma