Orang dengan hoarding disorder cenderung menimbun berbagai macam barang, termasuk barang-barang yang sudah tidak terpakai atau kotor, seperti koran, majalah, peralatan rumah tangga, dan pakaian kotor. Akibat kebiasaan menimbun barang, rumah atau tempat tinggal penderita hoarding disorder menjadi penuh sesak dan tidak teratur.
Kadang-kadang, orang yang menderita hoarding disorder tidak menyadari bahwa kebiasaan menimbun barang mereka adalah sebuah masalah, sehingga membuat proses pengobatan menjadi lebih sulit.
Meskipun tidak selalu mengganggu aktivitas sehari-hari secara langsung, hoarding disorder dapat memiliki efek negatif pada berbagai aspek kehidupan seseorang. Seringkali, orang dengan hoarding disorder tidak mengakui bahwa mereka memiliki masalah, yang membuat penanganan kondisi ini menjadi lebih rumit.
Penyebab pasti dari hoarding disorder belum diketahui secara jelas. Beberapa faktor yang mungkin berperan meliputi faktor genetik, gangguan fungsi otak, atau pengalaman traumatis dalam hidup.
Hoarding disorder umumnya ditandai dengan kebiasaan mengumpulkan dan menyimpan barang secara berlebihan, yang secara bertahap menumpuk di rumah, dan pada akhirnya penderita merasa sangat sulit untuk membuang barang-barang tersebut karena merasa memiliki keterikatan emosional.
Seiring berjalannya waktu, kebiasaan menimbun barang pada penderita hoarding disorder akan semakin sulit dihilangkan. Ketika mencapai usia paruh baya, gejala-gejala yang muncul akan semakin parah dan mungkin memerlukan penanganan yang lebih intensif.
Melansir dari laman Halodoc.com, berikut beberapa gejala lain dari hoarding disorder:
- Menyimpan barang-barang yang tidak dibutuhkan secara berlebihan sampai pengidapnya tidak memiliki ruang lagi di rumahnya.
- Kesulitan untuk berpisah dengan barang-barangnya.
- Merasa perlu untuk menyimpan barang-barangnya dan merasa kesal dengan pemikiran untuk membuang barang-barang tersebut.
- Mengalami kekacauan di mana tidak ada lagi ruang untuk menyimpan barang-barang.
- Memiliki kecenderungan keragu-raguan akan suatu hal, perfeksionisme, penghindaran, penundaan, dan masalah dengan perencanaan dan pengorganisasian.
- Mengalami konflik dengan orang lain yang mencoba mengurangi atau menghilangkan kekacauan dari rumah.
- Merasa aman ketika dikelilingi oleh barang-barang timbunan tersebut.
Orang dengan gangguan ini sering tidak mencari pengobatan, biasanya karena masalah lain seperti depresi atau gangguan kecemasan. Seorang profesional kesehatan mental akan melakukan evaluasi psikologis untuk membantu diagnosis. Selain pertanyaan tentang kesejahteraan emosional, penderita juga akan ditanya tentang kebiasaan memperoleh dan menyimpan barang, yang bisa berlanjut ke diskusi tentang penimbunan.
Hoarding disorder dapat diatasi dengan psikoterapi dan pemberian obat-obatan. Berikut adalah penjelasannya, dilansir dari laman Alodokter.com.
1. Psikoterapi
Psikoterapi fungsional untuk pasien yang menimbun barang melibatkan terapi perilaku kognitif. Ini membantu pasien menahan keinginan untuk menumpuk dan membuang barang. Terapi bisa melibatkan anggota keluarga pasien.
2. Obat-obatan
Dokter mungkin meresepkan obat untuk gangguan mental lain, seperti depresi atau kecemasan, yang biasanya berupa antidepresan jenis SSRI.
Selain pengobatan, Anda bisa melakukan langkah-langkah untuk membantu pemulihan, seperti:
- Membuat daftar barang di rumah.
- Mengelompokkan barang menjadi 'disimpan', 'buang', 'daur ulang', atau 'sumbangkan'.
- Membuang 5 benda setiap hari.
- Membersihkan satu ruangan setiap hari atau minggu.
- Membuat jadwal harian yang tidak berlebihan.
- Menyumbangkan barang yang layak pakai.
- Menempatkan tempat sampah di setiap ruangan.
- Mengambil foto sebelum dan sesudah membersihkan.
- Membuat keputusan cepat tentang barang.
- Menggunakan teknologi untuk mengurangi barang.
- Menarik nafas dalam saat membuang barang.
- Menyumbangkan hewan ke shelter.
Segera kunjungi psikiater atau psikolog terpercaya jika kamu mengalami kesulitan untuk membuang barang sehingga terjadi penumpukan barang di rumah.
Editor : Candra Mega Sari