JP Bogor - Denial atau penyangkalan biasanya terjadi ketika seseorang menghadapi situasi yang menimbulkan stres atau emosi negatif, seperti kehilangan, kegagalan, atau diagnosis penyakit serius.
Sigmund Freud menjelaskan bahwa denial atau penyangkalan adalah mekanisme pertahanan ego psikologis, di mana seseorang menolak untuk menerima kenyataan atau fakta yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Orang yang denial akan menegaskan bahwa fakta tersebut tidak benar, meskipun ada banyak bukti yang mendukungnya. Dengan cara ini, individu mencoba melindungi diri dari kenyataan yang sulit untuk dihadapi.
Seseorang yang terus denial mungkin mengabaikan masalah yang sebenarnya perlu ditangani, seperti menghindari pengobatan atau tidak mencari bantuan yang diperlukan.
Dikutip dari Halodoc.com, berikut adalah beberapa penyebab sikap denial:
- Stres dan Trauma: Kejadian menyakitkan seperti kehilangan orang yang dicintai, perceraian, kecelakaan, atau diagnosis penyakit serius.
- Ketakutan Akan Perubahan: Orang yang tidak siap menghadapi perubahan besar, seperti masalah keuangan atau hubungan, sering mengalami denyutan.
- Rasa Bersalah atau Malu: Seseorang mungkin menolak tindakan atau keadaan tertentu untuk menghindari rasa bersalah atau malu yang mendalam.
- Tekanan Sosial: Seseorang dapat menolak kenyataan karena takut dinilai orang lain.
Seseorang dapat mengatasi sikap denial dengan mengikuti beberapa langkah berikut, sebagaimana dilansir dari health.harvard.edu:
1. Sadari dan Akui
Langkah pertama untuk mengatasi denial adalah menyadari bahwa diri sedang dalam fase penyangkalan. Mengakui perasaan dan realitas yang ada adalah langkah penting menuju penyembuhan.
2. Berkonsultasi
Konsultasi dengan psikolog atau terapis dapat membantu seseorang memahami mengapa mereka menggunakan mekanisme denial. Mereka juga dapat membantu bagaimana menghadapi kenyataan dengan cara yang lebih sehat.
3. Fokus pada Tindakan
Setelah mengakui kenyataan dan berkonsultasi, penting untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Baik itu mencari pengobatan medis, menjalani terapi, atau membuat perubahan dalam gaya hidup, berfokus pada langkah-langkah nyata akan membantu mengatasi dampak dari denial.
Meskipun mengatasi denial bukanlah hal yang mudah, Anda dapat memulai pemulihan dengan bantuan profesional, dukungan dari orang-orang terdekat, dan keberanian untuk menerima kenyataan.
Jangan biarkan denial menjadi penghalang untuk menghadapi tantangan hidup. Sebaliknya, hadapi mereka dengan pikiran yang jernih dan hati yang terbuka untuk masa depan yang lebih baik.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah