JP Bogor - Stuttering atau gagap adalah gangguan bicara yang membuat pengucapan kata atau suku kata penderitanya jadi terbata-bata, berulang, atau tertahan. Gagap dapat terjadi pada siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa dapat mengalami gangguan tersebut.
Pada anak-anak, gagap merupakan hal yang normal karena kemampuan bahasanya yang masih berkembang. Umumnya, gagap pada anak akan hilang dengan berkembangnya usia dan kosa kata yang akan terus bertambah.
Berbeda dengan gagap pada orang dewasa yang biasanya disebabkan oleh trauma psikologis, cedera kepala berat, penyakit saraf progresif, atau stroke, gagap pada anak lebih sering terjadi. Berbicara sendiri dipengaruhi oleh empat aspek utama, yaitu kosa kata, struktur kalimat, fonologi, dan kelancaran (ketepatan). Kemampuan berbicara sangat penting untuk komunikasi.
Gagap pada dewasa lebih umum terjadi pada pria. Penyebabnya bisa berupa gangguan perkembangan yang dimulai saat anak-anak, gangguan mental, masalah motorik berbicara, cedera kepala, atau kondisi kesehatan yang mempengaruhi otak. Gagap pada dewasa lebih berisiko terjadi jika memiliki riwayat keluarga gagap, gangguan tumbuh kembang, stres berat, atau cedera kepala.
Dilansir dari laman rspondokindah.co.id, berikut beberapa gejala fisik yang menyebabkan seseorang mengalami stuttering atau gagap:
- Tampak cemas sebelum berbicara
- Wajah dan tubuh bagian atas menjadi tegang atau kaku, saat mengucapkan sebuah kata
- Bibir atau rahang tampak gemetar
- Mata berkedip dengan lebih cepat
- Tangan mengepal
- Otot wajah berkedut
- Gerakan kepala yang tiba-tiba dan cepat
Orang yang gagap biasanya tidak menunjukkan gejala saat berbicara dengan hewan peliharaan, membaca, bernyanyi, atau dalam situasi tenang tanpa tekanan psikologis.
Kegagapan pada dewasa dapat menyebabkan masalah kesehatan mental lainnya. Konsultasikan opsi penanganan yang tepat dengan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa atau Psikolog.
1. Terapi Wicara
Terapi wicara bertujuan untuk mengurangi gangguan dalam berbicara dan meningkatkan kepercayaan diri pasien, dengan fokus pada mengendalikan gejala gagap. Dalam sesi terapi, pasien diajarkan untuk berbicara perlahan, mengatur pernapasan, dan mengenali kapan gagap muncul.
2. Penggunaan Alat Elektronik
Selain itu, pasien dapat menggunakan peralatan elektronik, seperti DAF, yang membantu meningkatkan kefasihan dengan memperdengarkan rekaman ucapan mereka dalam kecepatan lebih lambat.
3. Terapi Perilaku Kognitif
Terapi perilaku kognitif juga penting untuk mengubah pola pikir yang memperburuk gagap dan mengelola stres serta rasa cemas.
4. Keterlibatan Orang Lain
Keterlibatan orang lain berpengaruh pada pengendalian gagap. Cara berkomunikasi yang efektif meliputi mendengarkan dengan baik, tidak menyelesaikan kata, memilih tempat berbicara yang tenang, dan berbicara perlahan.
Gagap atau stuttering tidak dapat dicegah. Meski begitu, jika anak Anda atau Anda memiliki gejala atau faktor yang meningkatkan risiko gagap, lakukanlah pemeriksaan ke dokter secepatnya.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah