Rafflesia Arnoldii juga dikenal secara luas dengan julukan monster flower atau bunga bangkai. Hal ini disebabkan oleh aroma yang dihasilkan menyerupai bau bangkai yang kuat.
Ada alasan biologis di balik bau menyengat seperti bangkai yang dihasilkan oleh Rafflesia Arnoldii, yaitu sebagai penarik lalat dan serangga agar datang untuk menyerbuki bunga tersebut agar dapat melanjutkan proses reproduksi.
Aroma busuk yang dihasilkan oleh bunga ini merupakan hasil dari zat dimethyl disulfide yang mana menghasilkan bau busuk yang menyengat.
Namun, bunga ini hanya mengeluarkan aroma busuknya selama seminggu saja dan setelah proses itu selesai, bunga akan membusuk dengan sendirinya. Butuh waktu sekitar sembilan bulan bagi bunga ini untuk mekar sepenuhnya.
Bunga ini termasuk ke dalam jenis parasit yang bersarang di tanaman lain untuk dijadikannya sebagai inang. Tanaman yang dijadikan inang adalah tumbuhan berjenis Tetrastigma yang merupakan tanaman yang berkerabat dengan anggur, yang kemudian menyerap zat-zat berharga dari inangnya tersebut, seperti air dan nutrisi.
Baca Juga: Mengenal Prasasti Pasir Awi: Saksi Bisu Kejayaan Kerajaan Tarumanegara di Bogor
Karena termasuk dari salah satu jenis parasit, Rafflesia Arnoldii tidak memiliki daun yang terlihat, batang, dan akar.
Nama Rafflesia Arnoldii sendiri diambil dari dua orang yang berperan dalam penemuan bunga tersebut. Mereka ialah Sir Stamford Raffles dan Dr Joseph Arnold.
Nama Raffles tidak hanya dijadikan sebagai nama bunga saja, melainkan juga sebagai penamaan genus dari tanaman tersebut. Hal ini sebagai penghormatan kepada Sir Stamford Raffles yang telah mendanai perjalanan eksplorasi dan juga merupakan orang yang memiliki reputasi tinggi dalam dunia ilmiah Inggris.
Sedangkan nama Arnoldii diambil dari nama Dr Joseph Arnold yang merupakan seorang naturalis berkebangsaan Inggris.
Sebelum tanaman ini dinamakan Rafflesia Arnoldii secara resmi, William Jack yang merupakan pengganti dari Dr Joseph Arnold pernah menamai tanaman itu secara tidak resmi dengan nama Rafflesia Titan dalam paper penelitiannya yang ketiga mengenai deskripsi tanaman Malaya.
Adapun tanaman ini ditemukan di Sungai Manna atau lebih jelasnya di Pulau Lebar yang terletak di Sumatra pada tanggal di antara 19-20 Mei 1818.
Meskipun pertama kali ditemukan di Sumatra, tanaman ini juga bisa ditemukan di Borneo, Jawa, Semenanjung Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Editor : Candra Mega Sari