JP Bogor - Hubungan yang baik adalah hubungan yang dibangun di atas beberapa fondasi, seperti rasa hormat, kejujuran, dan kepercayaan. Tidak jarang orang yang sulit untuk menerapkan dan mempertahankan sifat-sifat tersebut.
Maka dari itu, dalam suatu hubungan percintaan pasti tidak lepas dari adanya dinamika dan masalah yang terjadi. Hal tersebut bisa berujung pada dua kemungkinan antara hubungan yang semakin kuat atau hubungan yang malah menjadi toxic relationship atau hubungan beracun.
Toxic relationship merupakan sebuah hubungan yang secara terus-menerus merusak kesejahteraan, kebahagiaan, dan bahkan rasa aman seseorang. Jika dibiarkan, hal ini dapat menyebabkan orang merasa tidak dihargai dan disalahpahami, sehingga menimbulkan perasaan tidak aman dan tidak bahagia.
Penelitian telah menunjukkan bahwa hubungan yang beracun bahkan dapat menyebabkan kondisi kesehatan mental, seperti depresi atau kecemasan. Selain itu, hubungan yang toxic juga bisa berdampak pada hubungan lain seperti dengan anggota keluarga, teman, pasangan, atau rekan kerja, misalnya.
Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk mengenali tanda-tanda apakah hubungannya bersama pasangan masuk ke dalam toxic relationship. Berikut ini enam tanda-tanda toxic relationship:
1. Love Bombing
Love bombing adalah perilaku manipulatif yang sering dilakukan oleh individu dengan gangguan narsistik atau gangguan kepribadian ambang. Di awal hubungan, tindakan ini mungkin terasa menyenangkan karena pasangan terlihat sangat antusias dan ingin selalu bersama. Namun, lama-kelamaan, perilaku tersebut dapat terasa aneh dan tidak tulus.
Seorang terapis pasangan dan keluarga di New York City bernama Tracy Ross LCSW menggambarkan love bombing sebagai sesuatu yang terasa terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Pelaku biasanya membuat pasangan merasa sangat istimewa, tetapi tidak ada ketulusan yang nyata di balik hal tersebut.
Perilaku ini sering disertai pola pikir ekstrem, seperti "semua atau tidak sama sekali", yang dapat berubah drastis dalam waktu singkat. Misalnya, mereka tampak sangat menyenangkan saat suasana hati baik, tetapi tiba-tiba muncul pertengkaran tanpa alasan jelas, membuat Anda terjebak dalam situasi emosional yang sulit.
2. Gaslighting dan Menyalahkan Pasangan
Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang bertujuan membuat seseorang meragukan kenyataan, ingatan, atau persepsi mereka sendiri. Dalam hubungan yang toxic, salah satu pasangan mungkin selalu merasa disalahkan, terlepas dari situasinya.
Seseorang yang melakukan gaslighting biasanya menyangkal pengalaman korban, mengklaim bahwa kejadian yang dirasakan pasangan tidak pernah terjadi, atau menuduh pasangan terlalu sensitif atau salah mengingat. Perilaku ini sering menyebabkan pasangan merasa bingung, kehilangan kepercayaan diri, dan meragukan penilaian mereka terhadap situasi.
3. Tidak Merasa Setara dengan Pasangan
Salah satu kunci hubungan yang sehat adalah adanya rasa hormat, yang menjadi dasar perlakuan setara antara pasangan. Hubungan yang baik memungkinkan kedua belah pihak saling menghargai dan memperlakukan satu sama lain secara adil.
Namun, dalam hubungan yang toxic, kesetaraan ini sering hilang. Seseorang mungkin secara sengaja merendahkan atau membuat pasangannya merasa tidak cukup baik. Perasaan rendah diri yang muncul sering kali diperparah oleh perilaku manipulatif atau meremehkan.
Selain itu, rasa setara ini juga sering muncul dikarenakan usaha atau pengorbanan yang tidak setara. Hal ini terjadi ketika salah satu pihak memberikan lebih banyak waktu, perhatian, atau usaha dibandingkan dengan pasangannya.
Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan rasa frustrasi dan kelelahan emosional, terutama jika usaha yang diberikan tidak dihargai atau bahkan dianggap remeh.
4. Ketidakbahagiaan dalam Hubungan
Salah satu tanda hubungan yang sehat adalah terdapat perasaan bahagia, puas, dan nyaman yang dirasakan bersama pasangan. Sebaliknya, jika hubungan Anda justru membuat Anda merasa sedih, cemas, atau bahkan tertekan.
Hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa hubungan tersebut tidak sehat atau toxic. Meskipun Anda mungkin memiliki alasan tertentu untuk tetap bertahan, alasan tersebut sering kali tidak mampu menutupi ketidakbahagiaan yang Anda rasakan.
5. Rasa Takut Hubungan Berakhir
Dalam hubungan yang sehat, rasa takut kehilangan pasangan biasanya muncul dari keinginan untuk tetap bersama karena hubungan tersebut membawa kebahagiaan. Namun, dalam toxic relationship, perasaan ini bisa berbeda.
Seseorang mungkin merasa terjebak dalam suatu hubungan, meskipun sebenarnya tidak bahagia dan ingin mengakhiri hubungan tersebut. Namun, ketakutan akan berakhirnya sebuah hubungan membuat seseorang menjadi sulit untuk mengambil langkah keluar dari hubungan toxic tersebut.
6. Jarang Membahas Masa Depan
Dalam hubungan yang sehat, pasangan biasanya terbuka untuk mendiskusikan kebutuhan dan harapan mereka terkait masa depan bersama. Komunikasi semacam ini menjadi bagian penting untuk membangun hubungan yang kokoh dan saling memahami.
Namun, pada hubungan yang tidak sehat atau toxic, pembicaraan tentang masa depan sering kali menjadi hal yang dihindari. Pasangan mungkin enggan atau bahkan menolak untuk membahas rencana ke depan, sehingga Anda merasa tidak nyaman membicarakannya. Bahkan, upaya untuk memulai percakapan tentang masa depan bisa berujung pada pertengkaran atau konflik yang sulit diselesaikan.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah