Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Punya Sampah Organik Sisa di Rumah? Yuk Olah Jadi Kompos, Bisa Bantu Pertumbuhan Tanaman Bebas dari Bahan Kimia

Faiza Az Zahra • Selasa, 19 November 2024 | 11:05 WIB

 

Ilustrasi Kompos
Ilustrasi Kompos
JP Bogor
- Sampah organik merupakan sampah yang paling mudah untuk terurai dan kaya akan manfaat apabila dikelola dengan baik, salah satunya adalah dikelola menjadi kompos, yakni pupuk berharga yang bisa menyuburkan tanah dan tanaman. Dilansir dari laman waste4change, KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) mencatat jumlah sampah organik yang tertimbun di TPA sekitar 60%. 
 
Lalu, diperkirakan setiap orang di Indonesia dapat menghasilkan 1,3 juta ton limbah makanan per tahun. Tumpukan sampah organik di TPA  berbahaya karena menghasilkan gas metana,  gas efek rumah kaca yang memiliki berpotensi untuk meledak jika terkena percikan api. Parahnya lagi, riset dari Princeton University, menyebutkan gas metana (CH4) memiliki bahaya 30 kali lipat lebih tinggi sebagai penyebab pemanasan global.
 
Untuk menekan bahaya yang mengerikan tersebut, kita bisa mengolah sampah organik menjadi kompos. Kompos bermanfaat sangat baik untuk pertumbuhan dan kesehatan tanaman karena memiliki kandungan penting untuk keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan hidup mikroorganisme yang ada di dalam tanah. Kandungan penting tersebut meliputi, karbon, oksigen, hidrogen, karbon, dan nitrogen.
 
Kompos bisa dihasilkan dari proses penguraian secara alami oleh mikroba, sampah organik biasa dikenal sebagai sempah basah. Namun, tidak semua sampah basah dapat dijadikan sebagai bahan untuk mengompos. 
 
Ada dua jenis sampah organik yang bisa dijadikan bahan untuk mengompos. Pertama, sampah cokelat, meliputi daun/rumput kering, serbuk gergaji, sekam padi, limbah kertas, kulit jagung, tangkai sayuran, dan jerami. Kedua, sampah hijau, meliputi sayuran, buah, rumput segar/daun, teh,  kopi, dan kotoran ternak ayam/itik/kambing/sapi. Jika ingin mempercepat proses penguraian, anda bisa menggunakan starter kompos.
 
Lalu, sampah organik yang tidak dianjurkan, seperti daging, tulang ayam, kulit udang, susu, lemak/minyak, kotoran anjing/kucing, dan tanaman gulma. Agar menghasilkan kompos yang bagus, diperlukan perbandingan 3:1 antara sampah coklat dengan sampah hijau. Apabila mereka dipisahkan, proses pengomposan akan jauh lebih lama.

Baca Juga: Ingin Tampil Percaya Diri? Yuk Simak Rekomendasi 13 Outfit yang Cocok Dikenakan saat Piknik di Bogor
 
Manfaat Kompos untuk Tanaman
 
1. Meningkatkan Kualitas Tanah
 
Tanah yang mengandung banyak bahan organik bersifat lebih subur, dapat menahan air lebih baik, sehingga kualitas tanaman pun meningkat. Nah, kompos memiliki peran untuk mengembalikan bahan organik ke tanah. 
 
2. Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman
 
Tanaman juga butuh nutrisi yang cukup dan seimbang untuk tumbuh lebih sehat dan cepat. Kompos dapat mencukupi kebutuhan nutrisi tanaman karena di dalamnya, terkandung nitrogen, fosfor, dan kalium. 
 
3. Bebas Penyakit, Hama, dan Gulma
 
Bahan makanan yang dibutuhkan oleh mikroorganisme yang ada di dalam tanah dan tumbuhan dapat terpenuhi nutrisinya oleh pupuk kompos. Tanaman pun akan tumbuh lebih sehat, kuat  terbebas dari penyakit, hama dan gulma yang mengganggu.
 
4. Bebas Bahan Kimia
 
Setiap bagian tanaman yang nutrisinya terpenuhi dari pupuk kompos akan lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi karena terbebas dari penyakit, hama, dan gulma. 
 
Tanaman yang menggunakan pupuk kompos akan lebih aman dikonsumsi langsung karena bebas dari pestisida atau pupuk kimia lainnya. Seperti, mengkonsumsi buah pisang dari pohon yang menggunakan kompos atau sayur-mayur yang dipupuk dengan kompos.
 
5. Mengurangi Penggunaan Pupuk Kimia
 
Dengan menggunakan kompos, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan bisa dikurangi karena pupuk kompos sedah memberikan nutrisi yang cukup yang dibutuhkan oleh tanaman.
 
Penggunaan pupuk kompos juga dapat berkontribusi untuk  mengurangi kerusakan lingkungan karena bebas dari bahan kimia berbahaya.
 
6. Meningkatkan Kualitas Produk Tanaman
 
Melansir dari laman Composting Council, tanaman yang menggunakan pupuk kompos, tidak akan merusak tanah, sehingga kondisi tanah akan tetap sehat dan tanaman dapat tumbuh dengan baik. 
 
Pupuk kompos dapat berperan untuk menjaga kondisi tanah karena kandungannya dihasilkan dari sampah organik yang alami dan dibutuhkan tanah.
 
Pupuk kompos dan pupuk kimia memiliki kesamaan untuk membantu pertumbuhan tanaman. Akan tetapi, pupuk kompos tidak mengandung bahan kimia yang berdampak pada kesehatan manusia apabila dikonsumsi secara terus menerus.
 
7. Akar Tanaman Jadi Lebih Kuat
 
Kelebihan lain yang dimiliki oleh pupuk kompos adalah akar tanaman yang tertancap di tanah dengan kompos menjadi lebih kuat. Pupuk kompos juga berperan untuk menambah daya ikat air di tanah, sehingga akar akan tumbuh dengan baik.

Baca Juga: Bingung Mencari Parfum yang Tahan Lama? Yuk Kenali Tipe-Tipe Parfum dan Cara Merawatnya
 
Cara Membuat Kompos
 
Setelah mengetahui jenis-jenis sampah yang bisa dikompos. Buat komposmu dengan cara menyusun sampah cokelat dan sampah hijau secara selang-seling, seperti membuat roti lapis. Pengomposan bahan organik bakan lebih cepat jika ditambahkan kotoran hewan ternak (ayam, kambing, itik, dll). Berikut tata cara membuat kompos yang dilansir dari laman zerowaste.
  1. Siapkan composting bag. Pastikan tempat tersebut berada di tempat yang terlindungi dari sinar matahari.
  2. Kumpulkan bahan organik seperti daun kering, rumput, sisa makanan, dan kertas. Pastikan bahan organik yang kita kumpulkan tidak mengandung bahan kimia atau pestisida.
  3. Potong bahan organik menjadi ukuran yang lebih kecil agar mudah didekomposisi oleh mikroorganisme.
  4.  Taruh terlebih dahulu lapisan sampah cokelat. Lalu, letakkan sampah hijau di atasnya dan tumpuk kembali sampah cokelat di atasnya. Ulangi prosesnya sampai wadah kompos penuh. Pastikan bahan organik yang lebih kasar berada di bagian bawah
  5. Siram tumpukan bahan organik dengan air untuk menjaga kelembaban. Pastikan tumpukan tidak terlalu basah atau terlalu kering.
  6. Setelah beberapa minggu, bahan organik akan mulai terurai dan berubah menjadi kompos. Kita dapat mempercepat proses dekomposisi dengan mengaduk tumpukan bahan organik setiap beberapa minggu sekali.
  7. Setelah kompos matang, gunakan kompos tersebut untuk menambahkan nutrisi pada tanaman. 
Editor : Candra Mega Sari
#manfaat #kompos #sampah organik #tanaman