Berdasarkan informasi dari Kementrian Agama (Kemenag), sidang isbat untuk menentukan awal Ramadhan akan dilakukan pada Jumat (28/2/2025). Pemerintah melalui Kemenag akan melakukan perhitungan konjungsi atau ijtimak.
Ijtimak merupakan peristiwa saat matahari dan bulan berada segaris di bidang ekliptika yang sama. Peristiwa ini diperkirakan akan terjadi pada hari Jumat, 28 Februari 2025, tepatnya pukul 07:44:38 WIB, 08:44:38 WITA, 09:44:38 WIT.
Waktu terbenam matahari juga menjadi faktor penting dalam pengamatan hilal. Pada tanggal 28 Februari 2025, matahari diperkirakan terbenam paling awal pada pukul 17:54:26 WIT dan paling akhiri pada pukul 18:51:31 WIB di Aceh.
Selanjutnya penentuan awal bulan Hijriah bergantung pada tinggi hilal. Hilal positif artinya, bulan sabit sudah terlihat berada di atas horizon pada saat matahari terbenam. Sedangkan tinggi hilal negatif artinya bulan masih berada di bawah horizon matahari terbenam. Jika hilal dinyatakan positif, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Ramadhan dan umat Islam sudah mulai berpuasa. Sementara jika hilal ditentukan negatif, maka bulan Syaban akan digenapkan menjadi 30 hari, dan 1 Ramadhan baru dimuulai lusa.
Berdasarkan penjelasan dari nu.or.id, hilal akhir Sya'ban telah memiliki tinggi toposentris minimal +3 derajat dengan geosentris sebesar 6,4 derajat atau 6 derajat 24 menit.
Sehingga jika nantinya tidak ada laporan hilal terlihat di Aceh dan Sabang, maka ada sidang isbat yang akan menetapkan awal Ramadhan 1446 H pada tanggal 1 Maret 2025. Hal ini berdasarkan metode hisab imkan rukyah di wilayah Aceh, yang kemungkinan besar akan menggenapkan bulan Sya'ban menjadi 30 hari karena tidak ada laporan hilal terlihat di Aceh.
Editor : Candra Mega Sari