Melansir dari laman YourTango, meski bermanfaat bagi metabolisme, puasa intermiten bisa memicu risiko unik pada wanita seperti gangguan hormon jika tidak dilakukan dengan tepat.
Studi terbaru menekankan pentingnya memerhatikan kebutuhan nutrisi agar siklus menstruasi tetap terjaga. Jika dijalankan dengan benar bersama gaya hidup aktif, puasa intermiten diyakini memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Pengaturan Berat Badan dan Sensitivitas Insulin
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa intermiten dapat membantu menurunkan lemak tubuh dengan meningkatkan sensitivitas insulin serta membantu tubuh mengoptimalkan penggunaan lemak sebagai sumber energi.
2. Potensi Menurunkan Risiko Penyakit Metabolic
Mekanisme puasa, seperti periode tanpa makan lebih lama, dapat mengurangi peradangan dan meningkatkan proses pemulihan seluler seperti autophagy, yang berperan penting dalam kesehatan jangka panjang.
Walaupun demikian, perlu diingat bahwa mayoritas data ini berasal dari penelitian jangka pendek atau studi populasi umum, dan belum cukup kuat untuk semua kelompok usia atau kondisi kesehatan tertentu.
Di sisi lain, puasa intermiten juga memiliki potensi efek negatif yang lebih menonjol pada sebagian wanita:
- Efek pada Hormon dan Siklus Menstruasi
Review ilmiah terbaru menyebutkan bahwa puasa intermiten bisa mempengaruhi hormon reproduksi dan ritme menstruasi jika dilakukan tanpa penyesuaian individual.
Variabilitas respons ini bergantung pada durasi puasa, status metabolik, dan kondisi hormonal awal.
- Risiko Penurunan Glukosa dan Energi
Wanita cenderung lebih sensitif terhadap perubahan pola makan ekstrem jika dilakukan dengan tidak tepat.
Laporan ahli nutrisi menunjukkan puasa yang terlalu lama atau terlalu sering dapat menyebabkan kelelahan, iritabilitas, bahkan disfungsi tidur, tergantung kebutuhan energi individu.
- Tantangan Penerapan Sosial dan Gaya Hidup
Pembatasan waktu makan bisa mempengaruhi kehidupan sosial, serta menimbulkan tekanan psikologis jika seseorang terlalu terfokus pada jam makan tertentu.
Beberapa pakar kesehatan menyarankan bahwa pendekatan puasa intermiten harus dipertimbangkan secara individual, terutama bagi wanita yang sedang hamil, menyusui, atau memiliki gangguan hormonal seperti PCOS.
Konsultasi dengan profesional kesehatan selalu disarankan sebelum memulai pola ini, agar terkontrol terkait puasa intermiten dan memahami efek jangka panjangnya secara komprehensif.
Sampai saat itu, prinsip utama yang direkomendasikan adalah mendengarkan tubuh, memperhatikan sinyal fisiologis, dan tidak memaksakan pola yang berpotensi merugikan kesehatan.
Puasa intermiten bisa layak untuk beberapa wanita jika dilakukan dengan perencanaan yang matang dan pengawasan ahli, namun juga memiliki risiko yang tidak boleh diabaikan, terutama terkait hormon, siklus menstruasi, dan energi harian.
Pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu tetap menjadi kunci utama dalam menentukan apakah puasa intermiten cocok untuk seorang wanita.
Editor : Candra Mega Sari