Lokasi Prasasti Tapak Gajah
Prasasti Tapak Gajah terletak di Kampung Muara Pasir, Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Prasasti ini ditemukan pada abad ke-19, pada saat dilakukan penebangan hutan untuk membuat lahan perkebunan kopi. Oleh karena itu, prasasti ini juga dijuluki sebagai Prasasti Kebon Kopi I. Tak jauh dari lokasi Prasasti Tapak Gajah, terdapat satu prasasti lain, yaitu Prasasti Kebon Kopi II.
Saat ini, Prasasti Tapak Gajah masih berada di tempatnya ditemukan (in situ). Area penemuan prasasti ini merupakan kawasan pertemuan tiga sungai, yaitu Sungai Ciaruteun, Sungai Cianten, dan Sungai Cisadane. Untuk menuju ke lokasi Prasasti Tapak Gajah, diperlukan jarak tempuh sekitar 19 Km dari pusat Kota Bogor.
Baca Juga: Jejak Langkah Sejarah Desa Ciburayut di Kabupaten Bogor: Temukan Fakta yang Mengejutkan di Baliknya!
Sejarah dan Deskripsi Prasasti Tapak Gajah
Prasasti Tapak Gajah ditemukan pada pertengahan abad ke 19, tepatnya pada tahun 1863. Pada saat itu Jonathan Rigg, seorang tuan tanah pemilik perkebunan kopi di dekat Buitenzorg (Bogor) zaman Hindia-Belanda, melaporkan bahwa terdapat prasasti di tanahnya. Penemuan ini dilaporkan kepada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (saat ini Museum Nasional Indonesia) yang berada di Batavia.
Prasasti Tapak Gajah memiliki wujud berupa batu andesit yang berwarna kecoklatan, dengan ukuran tinggi 69 cm, lebar 104 cm, dan panjang 164 cm. Di permukaan batu terdapat ukiran tulisan yang diapit oleh sepasang tapak kaki gajah. Tulisan ini diukir menggunakan aksara Pallawa dengan bahasa Sansekerta.
Melansir dari situs resmi kebudayaan.kemdikbud.go.id, Prasasti Tapak Gajah menyebutkan bahwa gajah tunggangan Sri Purnawarman seperti Airawata, yaitu kendaraan tunggangan (vahana) Dewa Indra.
Berikut teks dengan artinya:
—-jayaviśālasya tārūme(ndra)sya ha(st)inaḥ —-(°airā) vatābhasya vibhātīdam=padadvāyaṃ ||
"Di sini tampak sepasang tapak kaki … yang seperti (tapak kaki) Airawata, gajah penguasa Tārūmā (yang) agung dalam … dan (?) kejayaan."
Dari teks tersebut, dapat disimpulkan bahwa Sri Purnawarman menyimbolkan dirinya seperti Dewa Indra, yaitu Dewa Perang, Dewa Cuaca, dan Penguasa Kahyangan dalam agama Hindu. Dengan cara menyamakan gajah tunggangan Sri Purnawarman seperti Airawata, gajah tunggangan milik Dewa Indra.
Baca Juga: Menengok Sejarah Vihara Dhanagun di Kota Bogor, Tempat Peribadatan yang Dulunya Ternyata Kelenteng
Editor : Candra Mega Sari