JP Bogor – Sebagai salah satu wilayah yang memiliki sejarah yang cukup panjang, Bogor menyimpan berbagai situs-situs bersejarah di dalamnya. Salah satunya adalah Masjid Agung At-Thohiriyah, yang biasa dikenal sebagai Masjid Agung Empang.
Masjid ini terletak di Jalan Empang 1 No. 1, Empang, Bogor Selatan, Kota Bogor. Sebagai masjid agung pertama di Bogor, masjid ini merupakan saksi bisu perkembangan Kota Bogor pada zaman Hindia Belanda.
Dilansir dari situs batarfie.com, di lokasi yang kini berdiri Masjid Agung Empang, dulunya berdiri sebuah masjid kecil bernama Tajug. Dibangun di tahun 1815, masjid Tajug dibangun menggunakan kayu dan berbentuk panggung sederhana.
Bangunan masjid ini digunakan oleh Bupati Bogor pada saat itu sebagai pusat pemerintahan yang baru. Penggunaan nama At-Thohiriyah mulai dilakukan sejak yayasan masjid dibentuk.
Terdapat tiga tokoh penting dalam pembangunan dan perkembangan Masjid Agung Empang ini. Yaitu Raden Muhammad Thohir, Raden Adipati Wiranata, dan Raden Adipati Suriawiranata.
Mereka bertiga inilah yang membantu mengokohkan pondasi masjid, menjadikannya sebagai pusat kegiatan keagamaan di Bogor.
Pada masa pemerintahan Raden Adipati Suriawinata (1849–1864), masjid ini diperluas ke arah Timur dengan menggunakan perpaduan unsur batu, tembok, dan kayu. Bagian utama masjid dipertahankan berbentuk panggung dengan kubah berbentuk joglo.
Sebagai pusat kegiatan keagamaan Bogor, para demang di Kabupaten Bogor (kepala distrik pada zaman pemerintahan Hindia Belanda) pada abad ke-19 akan datang ke Masjid Agung Empang untuk salat Jumat. Sebelum salat, mereka biasanya akan mandi terlebih dahulu di Sungai Cisadane.
Pada tahun 1920-an, terjadi kebakaran di kampung yang berada di belakang masjid. Sehingga beberapa bagian bangunan masjid ikut rusak parah. Karena itu, muncullah rencana perluasan dan pembangunan kembali Masjid Agung Empang yang dipimpin oleh beberapa tokoh masyarakat.
Di tahun 1927, Sayyid Alwi bin Ismail Alaydrus mewakafkan tanahnya di sebelah barat masjid seluas kurang lebih 750 meter persegi.
Kemudian di tahun 1935, Habib Abdillah bin Muhammad Asegaf juga mewakafkan tanahnya yang berada di sebelah utara masjid seluas kurang lebih 900 meter persegi. Di tahun ini juga, bangunan masjid dirombak total oleh Al Arifbillah Alhabib Alwi bin Muhammad Thohir Alhaddad.
Masjid dibangun ulang menggunakan tembok permanen dan juga diperluas, memberikan Masjid Agung Empang ini bentuk yang sekarang.
Meskipun bangunan masjid dilakukan renovasi total, terdapat unsur-unsur bangunan asli masjid yang masih dipertahankan. Seperti 4 pilar di tengah ruangan masjid yang kini dilapisi tembok agar kokoh, beserta mimbar dan mihrabnya.
Editor : Bayu Putra