JP Bogor – Museum Zoologi yang terletak di Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, merupakan museum yang memiliki berbagai macam hewan yang telah diawetkan serta dipajang sebagai sarana edukasi bagi para pengunjungnya.
Museum Zoologi Bogor memiliki nama lain yaitu Museum Zoologicum Bogoriense. Museum ini dikelola oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atau yang sekarang disebut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Museum Zoologi merupakan salah satu dari sekian banyak museum di Kota Bogor yang bisa menjadi destinasi wisata edukasi untuk menambah pengetahuan serta wawasan.
Dilansir dari Antara, museum ini memiliki sekitar 3.030.657 spesimen yang menjadi koleksi. Terdiri dari 15.804 serangga, 3.007 moluska, 1.300 ikan, 1.200 burung, 498 reptil, 460 mamalia, 334 amfibi, 134 nematoda, dan 70 krustasea.
Di tempat ini terdapat 24 ruangan yang menampilkan spesimen hewan yang berbeda-beda sesuai dengan spesies dari hewan tersebut.
Museum Zoologi Bogor memiliki dua bagian bangunan. Yang pertama merupakan bangunan yang dibuka setiap saat sesuai jadwal. bangunan ini juga bagian utama yang memamerkan koleksi spesimen dari Museum Zoologi Bogor.
Sedangkan bangunan kedua memiliki berbagai barang berharga yang dibuka hanya sekali selama satu tahun untuk umum, biasanya pada bulan Oktober. Kedua bangunan itu terpisah sehingga pengunjung harus mengunjunginya secara terpisah pula.
Koleksi terbesar di museum tersebut adalah fosil paus biru. Fosil itu juga merupakan koleksi yang paling terkenal diantara koleksi yang lainnya.
Museum ini dibangun kali pertama pada tahun 1894. Diinisiasi oleh J.C Koningsberger yang merupakan seorang ahli botani asal Jerman, yang juga salah satu tokoh pelopor Pembangunan dari Kebun Raya Bogor.
Awalnya, sebelum Pembangunan Museum Zoologi Bogor, terlebih dahulu dibangun sebuah laboratorium kecil bernama Landbouw Zoologish Laboratorium. Yang pada waktu itu berfungsi sebagai tempat mengumpulkan serta meneliti serangga pada tanaman pertanian.
Seiring perkembangan zaman, tempat ini mengalami banyak perkembangan termasuk dalam subjek penelitian hingga menjadi tempat yang dikenal sekarang.
Editor : Bayu Putra