JP Bogor – Bogor bukan sekadar kawasan yang menjadi tujuan wisata. Dari sisi sejarah, wilayah Bogor memiliki nilai historis yang tinggi karena sejumlah kerajaan pernah berdiri di sini.
Itu terbukti dengan keberadaan sejumlah prasasti yang tersebar di berbagai daerah Bogor, yang mencatat keberadaan sejumlah kerajaan yang pernah menduduki tanah di mana Bogor kini berdiri.
Mengutip laman resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama.
Prasasti biasa digunakan untuk memberikan pujian bagi raja-raja setempat atau mencatat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa itu.
Oleh karena itu, prasasti dianggap sebagai peninggalan bersejarah yang penting. Karena tidak hanya memberikan kronologis suatu peristiwa, namun juga memberikan informasi penting lain seperti nama dan juga unsur penanggalan.
Sebagai wilayah yang menyimpan sejarah yang cukup panjang, tidak sedikit prasasti yang ditemukan di wilayah Bogor. Berikut nama-namanya.
- Prasasti Batutulis
Prasasti Batutulis terletak di daerah Batutulis, Kota Bogor, dan dibuat pada era Kerajaan Sunda. Prasasti ini dibuat pada tahun 1533 oleh Raja Surawisesa untuk mengenang ayahnya, Sri Baduga Maharaja yang dikenal sebagai Prabu Siliwangi.
Ditulis menggunakan bahasa Sunda Kuno dengan aksara Jawa Kuno, prasasti ini menceritakan masa pemerintahan Prabu Siliwangi, yang membuat Kerajaan Sunda mencapai puncak kejayaannya.
- Prasasti Ciaruteun
Sesuai dengan namanya, prasasti ini ditemukan di tepi sungai Ciaruteun, Kabupaten Bogor. Prasasti ini merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang pernah menguasai tanah Pasundan sebelum Kerajaan Sunda hadir.
Dibuat pada abad ke 5 atau 6 masehi, prasasti ini berisi pujian kepada Raja Purnawarman yang tapak kakinya dianggap sebagai tapak kaki Dewa Wisnu.
Prasasti Ciaruteun diukir menggunakan bahasa Sansekerta dengan aksara Pallawa awal pada sebongkah batu berukuran 200×150 cm, dengan berat 8 ton.
- Prasasti Muara Cianten
Prasasti Muara Cianten, atau yang dikenal sebagai Prasasti Muara, terletak di Pasir Muara di tepi sungai Cisadane. Sebagaimana Cirauteun, Prasasti ini merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara.
Prasasti Muara Cianten diukir di permukaan batu berukuran tinggi 140 cm, panjang 317 cm, dan lebar 148 cm. Terdapat ukiran atau goresan berupa gambar sulur-suluran (pilin) atau ikal yang keluar dari umbi.
- Prasasti Tapak Gajah
Tak jauh dari Prasasti Muara Cianten, terdapat Prasasti Tapak Gajah atau yang biasa dikenal sebagai Prasasti Kebon Kopi I. Lokasi prasasti ini ditemukan dulunya merupakan kebun kopi milik Jonathan Rig.
Prasasti ini juga merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara, dan diperkirakan dibuat pada abad ke-5 Masehi. Prasasti Tapak Gajah diukir di batu andesit yang berwarna kecoklatan, berukuran tinggi 69 cm, lebar 104 cm, dan panjang 164 cm.
Terdapat pahatan sepasang kaki gajah yang mengapit sebaris tulisan huruf Pallawa dalam bahasa Sansekerta. Isi tulisannya memuji telapak kaki gajah tunggangan raja Kerajaan Tarumanegara, yang bagaikan telapak kaki gajah Airawata yang perkasa.
- Prasasti Jambu
Prasasti Jambu terletak di wilayah Pasir Gintung, Parakanmuncang, Nanggung, Kabupaten Bogor. Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, daerah ini termasuk daerah Perkebunan Karet Sadeng-Djamboe, sehingga prasasti ini dinamakan Prasasti Jambu.
Prasasti ini merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang diperkirakan dibuat pada abad ke-5 Masehi. Prasasti ini diukir pada batu yang berukuran sekitar 2-3 meter, menggunakan aksara Pallawa dengan Bahasa Sansekerta.
Ukiran prasasti ini berisi pujian pada Raja Tarumanegara pada saat itu, yaitu Raja Purnawarman. Selain ukiran tersebut, terdapat juga pahatan sepasang telapak kaki di bagian atas tulisan. Namun, bekas pahatan itu sudah hilang karena bongkahan batunya pecah.
- Prasasti Pasir Awi
Prasasti Pasir Awi terletak di lereng selatan bukit Pasir Awi, Jonggol, Kabupaten Bogor. Prasasti ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanegara.
Pada prasasti ini dipahat sepasang telapak kaki yang dianggap milik Raja Purnawarman. Selain telapak kaki, terdapat juga pahatan-pahatan lain seperti sebatang dahan dengan ranting-ranting dedaunan dan buah-buahan.
Terdapat juga aksara yang diukir di prasasti ini, namun belum dapat dibaca oleh siapapun hingga saat ini.
Editor : Bayu Putra