JP Bogor – Jika bepergian menuju Kota Bogor melalui Stasiun Bogor, tidak jauh dari stasiun itu terdapat banyak bangunan dari zaman kolonial Belanda yang dapat kita temui. Stasiun ini juga dekat dengan Kebun Raya Bogor, salah satu daya tarik utama Kota Bogor.
Di dekat Stasiun Bogor juga terdapat dua buah gereja yang menarik. Kedua bangunan gereja ini sudah ada sejak masa kolonial Belanda dan memiliki arsitektur yang unik. Mari berkenalan dengan dua gereja bersejarah di Kota Bogor ini.
- GPIB Jemaat “Zebaoth” Bogor
GPIB Zebaoth merupakan satu-satunya bangunan gereja yang berada di wilayah Kebun Raya Bogor. Dilansir dari laman gpibzebaothbogor.com, gedung gereja ini merupakan salah satu yang tertua di wilayah Kota Bogor. Pada awalnya, gereja ini diberi nama Köningin Wilhelmina Kerk.
Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada masa itu, J.P. Graaf van Limburg Stirum meletakkan batu pertama pembangunan gereja pada 30 Januari 1920. Selanjutnya, gereja ini pada zaman Hindia Belanda hanya digunakan oleh orang-orang Eropa yang akan beribadah.
Bagi warga non-Eropa pada masa itu, pemerintahan kolonial Belanda juga membuatkan tempat ibadah di Jalan Sudirman Kota Bogor yang juga masih berdiri hingga sekarang. Selama 20 tahun terakhir masa kolonial Belanda, gereja ini menyelenggarakan peribadatan dengan menggunakan Bahasa Belanda.
Di masa pascakemerdekaan Indonesia, pada 31 Oktober 1948 gereja ini dilembagakan kepada Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat atau GPIB. Semenjak itu, gedung Köningin Wilhelmina Kerk dikenal dengan gedung GPIB Bogor.
Hingga tahun 1962, GPIB Bogor tetap mengadakan sesi peribadatan dengan bahasa Belanda. Di sisi lain, masyarakat Bogor seringkali menjuluki gedung gereja ini dengan sebutan Gereja Ayam. Karena ciri khas gereja ini adalah penanda arah mata angin berbentuk ayam di pucuk menara tertinggi gereja.
Belakangan, gereja ini dinamai GPIB Zebaoth dan masih beroperasi melayani umat sampai sekarang. Gereja ini tetap mempertahankan arsitektur orisinil yang bergaya Neo-Gothic. Gedung GPIB Zebaoth yang bersejarah ini berada di Jalan Ir. H. Juanda No. 3, Paledang, Bogor Tengah, Kota Bogor.
- Gereja Katedral Beatae Mariae Virginis Bogor
Tidak jauh dari gereja GPIB Zebaoth Bogor, terdapat bangunan Gereja Katedral Beatae Mariae Virginis Bogor. Gereja ini berseberangan dengan gedung perpustakaan dan galeri Kota Bogor. Tidak jauh dari Stasiun Bogor, dan berada di jalan yang sama.
Dilansir dari laman bmvkatedralbogor.org, Gereja Katedral Bogor memiliki sejarah yang unik. Bermula dari tahun 1881, Mgr. Adam Carel Claessens yang merupakan seorang Vikaris Apostolik Batavia membeli sebidang tanah yang sangat luas. Yang pada masa sekarang meliputi gedung gereja katedral, pastoran, dan juga gedung sekolah yang ada di sebelahnya.
Tanah itu dibeli karena awalnya memang hanya diperuntukkan sebagai rumah istirahat atau rumah singgah bagi Mgr. Adam Carel Claessens dan R.D. M.Y.D. Claessens. Keduanya merupakan tokoh penting dalam perkembangan agama katolik di Bogor.
Namun, di bangunan rumah singgah tersebut juga menjadi tempat penyelenggaraan misa bagi para pendatang dari Batavia. Hingga pada tahun 1889 Hindia Belanda menambahkan Bogor menjadi wilayah misi kewilayahan gereja Batavia.
Pada tahun yang sama akhirnya dibangunlah bangunan gereja yang besar dan megah dengan gaya bangunan khas bernuansa Neo-Gothic. Bangunan gereja inilah yang kelak menjadi bangunan Gereja Katedral Beatae Mariae Virginis Bogor. Hingga pada masa setelah kemerdekaan Indonesia, wilayah Bogor dipisah dari Batavia.
Sejak itu, gedung gereja yang awalnya bernama Gereja Paroki Bogor diubah menjadi Gereja Katedral Beatae Mariae Virginis Bogor yang dikenal sekarang. Gereja ini berada di bawah wilayah Keuskupan Agung Bogor.
Gedung gereja katedral ini berada di Jalan Kapten Muslihat No. 22, Paledang, Bogor Tengah, Kota Bogor.
Editor : Bayu Putra