JP Bogor - Sudah bukan rahasia lagi jika bencana alam seperti banjir dan tanah longsor memiliki potensi untuk memunculkan berbagai jenis penyakit, baik ringan maupun kronis.
Oleh karena itu, penting untuk mengetahui jenis-jenis penyakit yang rentan terjadi pascabencana alam agar dapat terhindar dari komplikasi yang lebih serius.
Dilansir dari Halodoc dan dpr.go.id, berikut beberapa jenis penyakit yang rentan terjadi pada para pengungsi usai terjadi bencana alam:
1. Penyakit leptospirosis
Leptospirosis (demam banjir) disebabkan oleh bakteri leptospira yang bisa bertahan di air selama 28 hari. Bakteri ini menginfeksi manusia melalui kontak dengan air atau tanah lalu masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir atau luka lecet.
Leptospirosis termasuk salah satu penyakit zoonosis karena ditularkan melalui hewan. Di Indonesia, hewan penular utama adalah tikus, melalui kotoran dan air kencingnya.
Orang yang memiliki luka terbuka dan bersentuhan dengan air yang terkontaminasi kotoran atau urin tikus yang mengandung bakteri leptospira berisiko terkena infeksi dan jatuh sakit.
2. ISPA
Infeksi salur pernapasan akut (ISPA) dapat menyerang salah satu bagian pernapasan, mulai dari hidung hingga laring dengan cara infeksi dari mikroorganisme. Karena asal dari penyakit ini adalah virus dan bakteri, ISPA juga termasuk penyakit menular.
Korban bencana alam memiliki resiko yang cukup tinggi untuk mengalami ISPA karena kontak dengan pengidap melalui droplet ketika bersin ataupun batuk.
Jenis ISPA yang paling umum ditemukan adalah common cold, atau yang lebih sering dikenal dengan pilek. Namun, meski terlihat ringan, ISPA jenis lain seperti bronkitis, meningitis, dan pnemonia dapat berdampak serius bagi tubuh jika tidak ditangani.
Kamu perlu mewaspadai gejala-gejala ISPA yang muncul, seperti batuk dan pilek, demam, nyeri tenggorokan, nyeri badan, dan hidung tersumbat.
3. Diare
Diare juga menjadi penyakit yang rentan terjadi setelah bencana alam. Kondisi lingkungan yang kurang memadai serta sumber makanan atau air yang terkontaminasi virus menjadi sebab utama terjadinya diare.
Selain itu, malnutrisi juga dapat menjadi pendorong terjangkitnya diare oleh pengidap, terutama pada anak-anak. Anak yang mengalami malnutrisi akan memiliki antibodi yang lebih rendah dan meningkatkan kerentanan terhadap virus penyebab diare.
Seseorang dapat disebut mengalami diare apabila mereka buang air besar (BAB) dengan frekuensi yang meningkat dari biasanya. Secara normal seseorang akan buang air besar tidak lebih dari tiga kali dalam satu hari.
Jika mereka melebihi angka tersebut dan disertai gejala lainnya seperti tekstur feses yang lembek dan encer, dehidrasi, dan nyeri perut, demikian dapat dikategorikan sebagai diare.
Untuk menghindarinya, pastikan tangan selalu dicuci bersih dengan sabun dan mengusahakan penggunaan air bersih untuk dikonsumsi.
4. Penyakit kulit
Bencana alam seperti banjir maupun tsunami membuat para korban lebih rentan terserang penyakit kulit. Air kotor yang bercampur dengan limbah, bahan kimia, atau tanah terkontaminasi dapat membawa berbagai kuman dan bakteri.
Saat seseorang bersentuhan dengan air yang tercemar, bakteri bisa menembus kulit dan memicu infeksi. Beberapa masalah kulit yang umum muncul antara lain kutu air, dermatitis kontak, dan eksim.
Gejala yang biasanya dirasakan meliputi gatal-gatal, kemerahan, perubahan warna kulit, hingga pembengkakan. Menjaga kebersihan diri serta menggunakan obat-obatan ringan dapat membantu mengatasi keluhan tersebut.
Namun, jika gejala semakin parah atau mengganggu, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Perawatan medis juga diperlukan bila penderita mengalami keluhan tambahan seperti demam atau sesak napas.
5. Demam tifoid
Demam tifoid atau tifus merupakan salah satu penyakit yang umum terjadi pada korban bencana alam. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi yang masuk ke dalam makanan dan minuman.
Jika dicerna, bakteri ini dapat menyebar ke aliran darah dan pencernaan manusia. Demam tifoid dapat berdampak fatal dalam sebagian kasus.
Gejala demam tifoid biasanya terdiri dari sebagai berikut:
- Sakit kepala
- Mual dan muntah
- Konstipasi dan diare
- Demam tinggi
- Ruam pada kulit (hanya di kasus-kasus tertentu)
6. Gastritis
Jenis penyakit yang terakhir adalah gastritis. Gastritis terjadi ketika lapisan lambung mengalami iritasi, inflasi, atau erosi.
Dalam konteks bencana alam, gastritis dapat terjadi baik secara tiba-tiba atau perlahan dikarenakan oleh stres ataupun nutrisi makanan yang tidak memadai.
Bagi sebagian pengidap, gastritis tidak menimbulkan gejala. Tetapi, seringkali keluhan seperti nyeri perut, muntah, dan hilangnya nafsu makan dialami oleh pengidap gastritis. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah