Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Apa Itu 'Indie' di Era Modern? Genre Musik atau Sekadar Gaya Hidup?

Abdul Hamid Dhaifullah • Jumat, 20 Juni 2025 | 18:21 WIB

Ilustrasi penampilan musisi indie (Dok. Pinterest)
Ilustrasi penampilan musisi indie (Dok. Pinterest)
JP Bogor - Pada tahun 1995, dunia diguncang oleh rilisnya album Jagged Little Pill milik Alanis Morissette. Lebih dari 30 juta kopi terjual, dan Morissette pun menjadi ikon perempuan muda yang penuh amarah. Namun di balik ketenarannya, media menyematkan label 'Angry White Female' padanya, sebuah cap yang menyiratkan betapa kompleks dan politisnya identitas dalam musik, bahkan sebelum kata 'indie' menjadi tren global.

Kini, tiga dekade kemudian, kita hidup dalam lanskap musik yang semakin kabur batasnya. Label genre bukan lagi sekadar soal bunyi, melainkan juga soal sikap, identitas, dan estetika. Dan mungkin tak ada istilah yang lebih rumit dan membingungkan ketimbang sekadar 'indie'.

Melansir dari wknc.org, secara historis, indie adalah singkatan dari independent, sebuah istilah untuk menggambarkan musisi atau band yang merilis musiknya secara mandiri tanpa naungan label besar. Gelombang pertama musik indi muncul di Inggris pada akhir 1970-an, bersamaan dengan meledaknya musik post-punknew wave, dan alternative. Kala itu, banyak musisi yang muak dengan musik pop yang diproduksi secara massal, dan mereka mulai membuat jalur distribusinya sendiri.

Band seperti The Smiths menjadi ikon dari gelombang pertama ini. Musik mereka bukan hanya mewakili gaya suara yang khas, tetapi juga membentuk identitas budaya tersendiri: muram, intelektual, personal, dan sering kali melankolis. Dalam tulisan What Makes Indie Music Indie, disebutkan bahwa indie tidak pernah benar-benar menjadi genre musik, melainkan sebuah pendekatan artistic melalui kemandirian, orisinalitas, dan kontrol penuh atas karya.

Namun, seperti yang ditulis Ava Burge dalam esainya di avaburge.com, makna indie kini telah meluas dan menjadi cair. Musisi seperti Olivia Rodrigo, Boygenius, hingga Steve Lacy disebut sebagai 'indie pop', meski mereka kini bernaung di bawah label besar dan memiliki jutaan pendengar. Apakah mereka masih indie?

Pertanyaan itu semakin rumit ketika melihat bagaimana media sosial memainkan peran dalam popularitas musik indi hari ini. Banyak artis disebut indi bukan karena jalur distribusinya, melainkan karena nuansa musiknya yang 'melankolis', 'santai', atau 'lo-fi'. Spotify menciptakan daftar putar seperti Indie & Chill yang menggabungkan berbagai suara tanpa definisi yang jelas. Bahkan lagu seperti Mosquito milik PinkPantheress yang energik bisa masuk dalam kategori ini.

Hal ini menimbulkan ironi bagi indie yang dulunya anti-arustama, kini justru menjadi gaya hidup yang dikomodifikasi. Musik indi berubah dari gerakan perlawanan menjadi estetika branding. Musisi indi kini menjual perhiasan seharga ratusan dolar, tampil di Met Gala, dan mengelola persona publik di TikTok. Indi bukan lagi hanya tentang musik, tapi juga tentang bagaimana musisi mengemas dirinya.

Kita pun sampai pada pertanyaan yang cukup mengganggu, "Apakah indie masih bisa dianggap genre musik, atau justru telah menjadi label waktu?" Ava Burge menyebutkan dalam artikelnya, musik indie era 1990-an seperti Nirvana, The Breeders, atau Sonic Youth masih sangat terasa nafas pemberontakannya, berisik, gelap, dan penuh amarah. Band-band itu tidak punya TikTok. Mereka tidak menjual cincin berlian di situs resmi mereka. Mereka bermain di bar kecil, menulis lagu karena frustrasi, dan hidup di bawah bayang-bayang sistem musik yang menekan.

Sementara itu, 'indie; hari ini lebih banyak tentang aesthetic. Musik menjadi setengah dari identitas artis, sisanya ditentukan oleh visual, opini politik di media sosial, hingga jenis font yang mereka pilih di sampul album. Genre tidak lagi ditentukan oleh instrumen, tapi oleh vibe.

Namun di tengah kebingungan itu, ada satu hal yang tetap bertahan, yaitu hubungan emosional pendengar dengan musik indie. Baik itu lewat denting gitar akustik yang sederhana, lirik yang terasa sangat personal, atau karena kita mendengarnya saat masa remaja yang penuh gejolak. Indi masih menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Ava Burge menulis, "Indie adalah contoh dari paradoks di dalam artis mana pun, dan di dalam diri saya." Ia melanjutkan bahwa mendengarkan music-musik indi adalah pengalaman emosional sekaligus sosial, dan seperti banyak dari kita, ia masih bertanya-tanya apakah mungkin mencintai sesuatu sambil tetap bersikap kritis terhadapnya.

Mungkin, justru di situlah kekuatan sejati indie. Ia tidak bisa dipaku pada satu definisi. Ia berkembang, berubah, membingungkan, kadang menjengkelkan, tapi juga sangat manusiawi. Ia memberi ruang bagi siapa pun untuk mengekspresikan diri, bahkan jika ekspresi itu tampak kontradiktif.

Editor : Candra Mega Sari
#musisi #label #musik #musik indie