Ketika kita menyaksikan ketidakadilan seperti pembakaran bahan bakar fosil, penyiksaan hewan dalam industri peternakan massal, hingga penindasan terhadap pengungsi, dorongan alami muncul untuk tidak tinggal diam. Aktivisme lahir dari dorongan ini, dari tekad untuk menantang kekuasaan dan membangun dunia yang lebih baik bagi semua.
Aktivisme, secara sederhana menurut liberties.eu, adalah tindakan yang dilakukan untuk menantang kekuasaan demi perubahan sosial demi kebaikan bersama. Ini bisa muncul dalam banyak bentuk mulai dari demonstrasi, protes, mogok kerja, boikot, kampanye daring, ketidakpatuhan sipil, seni protes, hingga advokasi kebijakan.
Tak ada satu cara baku untuk beraksi. Aktivisme memiliki banyak bentuk, bergantung pada siapa yang melakukannya dan konteks zamannya. Berikut contoh aksi yang boleh jadi sering kita dengar:
- Demonstrasi dan Protes: Massa berkumpul untuk menyuarakan tuntutan, mulai dari pawai jalanan, aksi duduk, hingga metode mengejutkan seperti menelanjangi diri atau merantai diri ke pohon.
- Mogok Kerja: Sejak Revolusi Industri, pekerja dari tambang batubara hingga pabrik tekstil menggunakan mogok sebagai senjata menuntut upah layak dan kondisi kerja manusiawi.
- Boikot Ekonomi: Menghentikan dukungan finansial kepada perusahaan atau negara yang dianggap melakukan pelanggaran, seperti gerakan Boycott, Divestment, Sanction (BDS) terhadap Israel.
- Kampanye Online: Di era digital, email massal, petisi daring, dan kampanye media sosial memperluas jangkauan protes hingga ke pusat-pusat kekuasaan dunia.
- Ketidakpatuhan Sipil: Aksi melanggar hukum secara sengaja sebagai protes damai, seperti yang dilakukan kelompok Extinction Rebellion atau Just Stop Oil.
- Seni Protes: Seniman seperti Sinead O’Connor atau Keith Haring mengangkat isu sosial melalui karya seni yang menggugah kesadaran publik.
Aktivisme tidak selalu berarti turun ke jalan atau menghadapi risiko penjara. Sebagaimana dituturkan oleh para relawan Greenpeace di situs resmi mereka, aktivisme adalah spektrum yang luas. Aktivisme bisa berarti mengambil tindakan dalam bentuk apapun untuk membawa perubahan baik atau mencegah perubahan buruk atau menyebarkan informasi kepada mereka yang seharusnya bertindak atau juga membuat tekanan kepada pemerintah dan korporasi besar untuk mengubah cara mereka.
Beberapa aktivis memilih cara yang penuh risiko seperti unjuk rasa, sementara lainnya menyumbangkan tenaga lewat petisi, edukasi, lobi kepada wakil rakyat, hingga sekadar membagikan informasi di media sosial. Bagi sebagian orang, seperti yang diceritakan oleh cucu seorang aktivis Gandhi, keberanian untuk mengambil risiko besar mungkin tak selalu hadir. Namun ia tetap menemukan jalannya: menulis dan menyebarkan pesan.
Setiap orang bisa menjadi aktivis, tak perlu menjadi ahli atau profesional. Ada warga biasa yang menghidupi nilai demokrasi dengan mendukung gerakan sosial. Ada reformis yang mendorong perubahan dari dalam sistem. Ada pemberontak yang menyorot ketidakadilan dari luar sistem kekuasaan. Dan ada change agent yang mengedukasi publik agar semakin banyak yang ikut terlibat.
Aktivisme juga melahirkan komunitas sebagai tempat berbagi pengetahuan, energi, dan semangat yang memperkuat gerakan kolektif. Seperti disampaikan salah satu relawan Greenpeace, "Bersama orang-orang yang sepemikiran, saya merasa melakukan sesuatu yang berarti."
Banyak revolusi sosial dan politik terjadi berkat keberanian para aktivis. Penghapusan perbudakan, hak pilih perempuan, hingga tumbangnya rezim-rezim otoriter, semua itu lahir dari upaya tanpa lelah mereka yang berani melawan arus.
Aktivis sering kali datang dari kelompok yang termarjinalkan, membawa suara mereka yang jarang terdengar ke ruang publik. Mereka menjadi jembatan antara rakyat dan pengambil kebijakan, memastikan suara kelompok yang rentan ikut diperhitungkan. Di saat yang sama, mereka menjaga keseimbangan kekuasaan, menuntut akuntabilitas dari pemerintah maupun korporasi.
Editor : Candra Mega Sari