Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Sudah Tahu Maknanya? Inilah Alasan Tanggal 20 Mei Ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasiona

Abdul Hamid Dhaifullah • Selasa, 20 Mei 2025 | 13:51 WIB

Ilustrasi perayaan hari kebangkitan nasional dengan mengibarkan bendera (Dok. Pinterest)
Ilustrasi perayaan hari kebangkitan nasional dengan mengibarkan bendera (Dok. Pinterest)
JP Bogor - Di tengah gegap gempita era digital dan derasnya arus globalisasi, setiap tanggal 20 Mei bangsa Indonesia memperingati momen tahunan bernama Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Hari itu bukan sekadar peringatan, tetapi penanda lahirnya kesadaran sebagai bangsa, yang dimulai dari ruang kelas kecil para pelajar STOVIA pada 1908, ketika organisasi Boedi Utomo berdiri dan menjadi lentera bagi pergerakan nasional.

Lebih dari satu abad lalu, tepatnya pada 20 Mei 1908, sekelompok anak muda terdidik yang dipimpin oleh Dr. Soetomo dan digerakkan oleh semangat Dr. Wahidin Sudirohusodo mendirikan Boedi Utomo. Organisasi ini mungkin belum secara eksplisit menyuarakan kemerdekaan, namun ia menanamkan benih yang sangat krusial tentang pendidikan, kesadaran sosial, dan semangat bersatu.

Di bawah bayang-bayang kolonialisme Belanda, yang saat itu memberlakukan Politik Etis sebagai "balas budi", lahirlah generasi intelektual yang bukan hanya berpikir untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk bangsanya. Pendidikan menjadi jalan sunyi yang mereka tempuh untuk memotong rantai ketidakadilan dan membangunkan masyarakat dari tidur panjangnya.

Boedi Utomo memang kerap dikritik karena lebih berfokus pada kaum priyayi Jawa dan terkesan tidak radikal. Namun justru dari sanalah sejarah menyalakan bara perubahan. Organisasi ini adalah jembatan antara kebangkitan kesadaran kultural menuju nasionalisme politis, yang kemudian dilanjutkan oleh Sarekat Islam, Indische Partij, hingga lahirnya Sumpah Pemuda pada 1928.

Di tengah revolusi kemerdekaan yang masih bergolak, Presiden Soekarno pada 1948 menetapkan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Penetapan ini bukan tanpa alasan: tahun itu menandai 40 tahun berdirinya Boedi Utomo dan menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat kolektif bangsa di tengah ancaman penjajahan kembali.

Sejak itu, melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, 20 Mei secara resmi menjadi Hari Nasional yang bukan hari libur, tapi penuh makna. Ia adalah hari untuk merenung, mengingat bahwa kebangkitan bangsa tidak datang dari kekuatan senjata semata, tapi dari keberanian berpikir, berbicara, dan bergerak bersama sebagai satu bangsa.

Di masa kini, Hari Kebangkitan Nasional kerap diperingati dengan upacara, pidato, dan pakaian adat. Tapi makna terdalamnya justru terletak pada bagaimana semangat itu diwariskan. Bagaimana generasi muda hari ini dengan segala fasilitas dan akses mampu membangkitkan kembali semangat gotong royong, pendidikan yang mencerahkan, dan nasionalisme yang inklusif.

Kebangkitan bukanlah peristiwa sekali jadi. Ia adalah proses panjang yang menuntut kesadaran kolektif. Dari masa Boedi Utomo yang berjuang lewat pena dan pemikiran, hingga kini saat kita menghadapi tantangan disinformasi, krisis iklim, dan ketimpangan sosial semangat Harkitnas akan selalu tetap relevan.

Editor : Candra Mega Sari
#20 mei #sejarah #hari kebangkitan nasional #alasan