JawaPos.com – Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Indonesia (UI) dengan akun Instagram @psikologi_sosial, menjelaskan perspektif lain soal program pengiriman siswa nakal ke barak militer.
Mahasiswa yang mencantumkan nama Saputra Syarif di akunnya itu menanggapi kebijakan Gubernur Jawa Barat dedi Mulyadi yang saat ini ditentang oleh beberapa pihak.
“Kadang yang dibutuhkan anak muda bukan hukuman, tapi struktur. Dedi Mulyadi mengirim puluhan siswa nakal ke barak militer, bukan untuk dihukum, tapi dibimbing,” ucap Syarif.
Ia menjelaskan bahwa barak bisa menjadi ruang aman, terutama bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh tuntutan namun tanpa arah.
Di dalam barak, para siswa diajak menjalani sejumlah rutinitas. Seperti bangun pagi, menyusun tempat tidur, mematuhi instruksi, juga rutinitas lain seperti olahraga, makan tepat waktu, hingga tidur tepat waktu.
Rutinitas tersebut sebenarnya lumrah dilakukan oleh siapapun, namun bagi para siswa bermasalah itu, bisa jadi sama sekali berbeda dengan kebiasaan mereka di rumah maupun di luar rumah.
Hal-hal ini, menurut syarif, secara psikologis mampu membentuk kebiasaan dan karakter baru bagi para siswa tersebut.
“Psikologi sosial, terutama dalam pendekatan behavioristik, meyakini bahwa perilaku manusia dibentuk, dipelihara, dan diubah oleh konsekuensi yang muncul dari lingkungannya,” lanjutnya.
Barak, dalam konteks para siswa ini, bukan menjadi alat represi atau hukuman. Melainkan laboratorium sosial, tempat para siswa bisa mematikan pola perilaku lama dan mengembangkan kebiasaan baru lewat keteraturan dan konsistensi.
Karena itu, Syarif memandang kebijakan Dedi Mulyadi mengirim siswa bermasalah ke barak militer bukan persoalan militerisasi pendidikan.
Sebaliknya, ini menjadi usaha negara untuk hadir ketika keluarga dan sekolah mungkin sudah menyerah menghadapi siswa-siswa itu.
"Karena kadang yang terlihat seperti barak, justru bisa menjadi rumah, tempat anak belajar mengenal dirinya. Bukan lewat kata-kata, tapi lewat keteraturan," pungkasnya.
Video Syarif pun diunggah ulang oleh Dedi Mulyadi di akun Instagramnya, @dedimulyadi71. Dia merasa ada yang bisa menjelaskan kebijakannya dari sisi psikologis.
Dalam unggahannya, Dedi menyampaikan bahwa anak-anak yang terlibat tawuran, kecanduan game online, hingga penyalahgunaan narkoba tidak cukup hanya ditangani dengan ceramah atau hukuman.
“Nih, ada pernyataan argumentatif dan logis dari anak muda Indonesia yang harus disimak oleh kita semua,” tulis Dedi, menyindir pihak yang masih mengkritik kebijakan, dikutip Jumat (16/5).
Melalui video Syarif, Dedi menyampaikan bahwa langkah membawa anak ke barak bukan bertujuan menghukum, melainkan membimbing melalui struktur yang jelas.
Editor : Bayu Putra