Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Menguak Jejak Sejarah Eugenika dan Rasisme Ilmiah, Sebuah Warisan Gelap Ilmu Genetika

Abdul Hamid Dhaifullah • Kamis, 15 Mei 2025 | 21:00 WIB
Poster tentang eugenika di Inggris dan Amerika. (pinterest.com)
Poster tentang eugenika di Inggris dan Amerika. (pinterest.com)

JP Bogor – Di balik perkembangan pesat ilmu genetika modern, tersimpan sejarah kelam yang masih menghantui, yakni eugenika dan rasisme ilmiah. Keduanya adalah warisan keliru yang pernah mengklaim legitimasi ilmiah untuk menyeleksi siapa yang pantas hidup dan siapa yang tidak.

 Eugenika, sejak dikenalkan oleh Francis Galton pada 1883, tumbuh dari pemikiran bahwa manusia bisa "disempurnakan" melalui perkawinan selektif. Teori ini, yang berpijak pada pemahaman menyimpang terhadap genetika Mendel, menyebar ke seluruh dunia dan membentuk kebijakan yang penuh diskriminasi. Involuntary sterilization, segregasi sosial, hingga pembunuhan massal menjadi bagian dari praktiknya.

Dalam skala global, eugenika mendapatkan dukungan dari para ilmuwan, pejabat kesehatan, hingga akademisi pada awal abad ke-20. Negara-negara seperti Jerman, Inggris, Meksiko, Italia, dan Amerika Serikat mencatat sejarah hitam ketika ide ini diterapkan dalam kebijakan publik.

Di Jerman Nazi, eugenika menjadi bagian dari proyek "penyucian ras". Ribuan orang dibunuh atau disterilisasi paksa karena dianggap tidak layak hidup. Orang-orang itu adalah para penyandang disabilitas, orang Yahudi, Sinti dan Roma, serta individu LGBTQ+.

Di Amerika Serikat, praktik serupa dilakukan terhadap warga kulit hitam, Latinx, penduduk asli, dan mereka yang dianggap "tidak waras", semuanya dibungkus dalam narasi ilmiah yang menyesatkan.

Lebih berbahaya lagi, eugenika bukan sekadar masa lalu. Hari ini, di tengah kemajuan teknologi genomik, praktik-praktik yang mencerminkan semangat eugenika masih mengintai dalam bentuk baru.

Penggunaan tes genetika pada embrio, dorongan untuk "menghindari" kelahiran anak dengan kondisi tertentu, dan algoritma berbasis genom yang menilai risiko gangguan psikososial kini tengah diperdebatkan para bioetikus.

Apakah kita sedang membangun masa depan yang lebih sehat, atau tanpa sadar mengulangi kesalahan lama dengan wajah baru?

Kisah eugenika adalah peringatan keras tentang bagaimana sains bisa disalahgunakan saat dilepaskan dari etika dan keadilan sosial. Maka, memahami sejarah ini bukan sekadar pelajaran masa lalu, melainkan kompas moral bagi masa depan ilmu pengetahuan.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#ilmu genetika #Rasisme ilmiah #Eugenika