Munir memulai jejaknya di dunia hukum lewat Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya. Ia dikenal bukan karena prestasi akademik semata, tetapi karena keberaniannya melawan ketidakadilan. Bahkan ketika meraih predikat alumni teladan, Munir menolak simbol penghargaan itu lantaran kecewa terhadap almamaternya yang berkompromi dengan korporasi perampas tanah rakyat. Sikap itu mencerminkan keberpihakannya yang tak bisa dibeli.
Karier Munir sebagai pembela HAM dimulai dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pos Malang hingga mendirikan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) serta lembaga Imparsial. Ia tak gentar membela kasus-kasus besar seperti Tragedi Tanjung Priok, Marsinah, penculikan aktivis 1997/1998, hingga konflik di Aceh dan Timor-Timur. Dalam perjuangannya, ia menolak kekerasan negara dan menyerukan pentingnya keberanian untuk melawan rasa takut.
Namun, perjuangan itu terhenti secara tragis di ketinggian udara pada 7 September 2004. Dalam perjalanan menuju Belanda untuk melanjutkan studi, Munir diracun dengan arsenik di dalam pesawat Garuda Indonesia. Meski beberapa nama sudah dijatuhi hukuman, dalang utama pembunuhan Munir hingga kini belum tersentuh hukum. Banyak yang percaya kasus ini mencerminkan kegagalan negara dalam melindungi warganya yang memperjuangkan kebenaran.
Munir bukan hanya pahlawan dalam ranah hukum, tetapi juga dalam gerakan buruh dan perjuangan sipil. Ia dikenal memperjuangkan hak buruh perempuan, melawan diskriminasi upah, dan mendorong reformasi militer demi perlindungan rakyat. Bahkan salah satu pasal dalam UU TNI tentang kesejahteraan prajurit dikenal sebagai "Pasal Munir."
Penghargaan demi penghargaan diterimanya, dari Right Livelihood Award hingga Mandanjeet Singh Prize dari UNESCO. Namun warisan terbesarnya bukanlah deretan medali, melainkan inspirasi moral bagi generasi yang percaya bahwa keadilan tidak bisa ditawar-tawar.
"Kita harus lebih takut kepada rasa takut itu sendiri, karena rasa takut menghilangkan akal sehat dan kecerdasan kita," ujar Munir dalam salah satu kutipannya yang paling diingat.
Kini, meskipun jasad Munir telah lama tiada, semangatnya tetap menyala dalam gerakan masyarakat sipil, ruang diskusi hukum, hingga setiap langkah kecil mereka yang berani melawan ketidakadilan. Munir telah tiada, tetapi keberpihakan adalah warisan abadi.
Editor : Candra Mega Sari