Berikut adalah kilas balik kreatif perjalanan Miyazaki sebagai sutradara gim, dari masa awal hingga karyanya yang revolusioner sekarang.
1. Armored Core 4 & For Answer
Sebelum dunia mengenalnya lewat pedang dan sihir, Miyazaki lebih dulu menjajal kemampuannya di dunia mecha. Armored Core 4 dan For Answer adalah proyek besar pertamanya sebagai sutradara di FromSoftware. Meskipun tidak sepopuler Dark Souls, gim ini tetap meninggalkan jejak penting, memperlihatkan bagaimana Miyazaki mampu menyusun sistem pertarungan cepat dengan atmosfer dunia yang kuat, dua hal yang kemudian jadi ciri khasnya.
2. Demon's Souls
Inilah titik awal segalanya. Demon's Souls (2009) adalah gim yang meletakkan fondasi dari semua yang kini dikenal sebagai Soulsborne. Dari sistem kematian yang menghukum, dunia yang suram, hingga narasi tersembunyi yang mengajak pemain untuk menafsirkan sendiri, semuanya pertama kali diperkenalkan di sini. Walau belum sempurna, gim ini menunjukkan nyali besar Miyazaki untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar berbeda dari pakem gim action-RPG saat itu.
3. Dark Souls
Dirilis pada 2011, Dark Souls adalah gim yang mengangkat nama Miyazaki ke level global. Dengan dunia yang saling terhubung, pertarungan stamina-based yang intens, dan atmosfer gotik nan kelam, Dark Souls sukses menciptakan subkultur gaming tersendiri. Desain dunianya yang mirip Metroidvania dalam ruang 3D menjadikannya studi kasus tersendiri dalam pengembangan gim modern.
4. Bloodborne
Tiga tahun setelah Dark Souls, Miyazaki mengambil risiko besar dengan membuat Bloodborne. Latar gimnya berubah drastis ke kota gotik yang mengerikan, pertarungan menjadi lebih cepat dan agresif, serta dunia makin misterius dan memutarbalikkan realita. Dianggap sebagai salah satu gim terbaik di PS4, Bloodborne adalah eksperimen sukses yang membuktikan bahwa Soulsborne tak harus selalu soal perisai dan sihir, terkadang kamu butuh senapan dan gergaji.
5. Dark Souls 3
Sebagai penutup trilogi, Dark Souls 3 membawa semua elemen terbaik dari seri ini dan memolesnya menjadi pengalaman yang matang. Namun, ia juga menjadi pengingat bahwa bahkan dunia yang abadi pun harus berakhir. Miyazaki menutup buku dengan sebuah pernyataan filosofis: “kamu tak bisa terus meminta dunia yang sama; pada akhirnya, semua harus berubah.” Dengan pertarungan bos seperti Slave Knight Gael, gim ini juga menunjukkan seberapa jauh FromSoftware telah berkembang secara teknis.
6. Déraciné
Bergeser dari pertarungan dan darah, Miyazaki juga sempat mengejutkan banyak orang lewat Déraciné (2018), gim VR yang berfokus pada eksplorasi dan teka-teki dalam balutan cerita dongeng gelap. Tidak ada pedang atau naga di sini, hanya nuansa sunyi, kesedihan, dan atmosfer yang menusuk. Walaupun tidak populer secara komersial, Déraciné menunjukkan bahwa Miyazaki punya rentang emosi dan kreativitas yang luas.
7. Sekiro: Shadows Die Twice
Jika Bloodborne adalah langkah menyamping, maka Sekiro adalah lompatan vertikal. Set di Jepang era Sengoku dengan sentuhan supernatural, Sekiro melemparkan semua elemen RPG Soulsborne dan menggantinya dengan duel pedang yang mematikan. Tidak ada build karakter atau multiplayer. Hanya kamu, pedangmu, dan kematian yang selalu mengintai. Sekiro adalah bukti bahwa Miyazaki mampu keluar dari zona nyamannya dan tetap bersinar.
8. Elden Ring
Puncaknya adalah Elden Ring (2022), gim yang menyatukan seluruh filosofi desain Miyazaki dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia terbuka The Lands Between memberikan kebebasan eksplorasi luar biasa, sementara sistem pertarungannya mendalam dan bisa disesuaikan dengan gaya bermain siapa pun. Dengan elemen-elemen klasik Soulsborne seperti bonfire (yang kini disebut Sites of Grace), Elden Ring adalah penyempurnaan dari semua karya sebelumnya.
Editor : Candra Mega Sari