JP Bogor – Tak semua pihak setuju dengan Cara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menormalisasi sungai yang ada di wilayah Jabar. Salah satunya lewat pembongkaran di bantaran Kali Bekasi.
Cara tersebut dikritik oleh salah seorang remaja perempuan lewat unggahan video di akun media sosial TikTok @iam_auracinta, dan videonya jadi viral.
Dalam unggahannya, remaja tersebut meminta agar setiap orang membayangkan rumahnya dihancurkan tanpa musyawarah lebih dahulu.
"Coba bayangin jika rumahmu dihancurkan tanpa musyawarah. Kami memang tinggal di tanah negara, tapi kami hidup dan membangun di sana selama bertahun-tahun," tulisnya.
Remaja perempuan tersebut mengatakan, puing bangunannya pun dijual tapa izin. "Bukan hanya rumah yang hilang, puingnya pun diangkut dan dijual tanpa izin. Katanya ada kompensasi, tapi yang kami pegang hanya sisa reruntuhan," tuturnya.
Remaja tersebut menuturkan, pihak warga tidak diajak bicara saat pembongkaran. Rumah-rumah mereka langsung dibongkar begitu saja.
"Katanya demi rakyat, tapi kenapa rakyat disingkirkan? Kalau ini untuk kebaikan, kenapa kami tak pernah diajak bicara? Jangan-jangan ini bukan soal kepentingan rakyat, tapi soal pencitraan. Rakyat dijadikan latar, supaya yang berkuasa bisa tampil paling peduli," katanya.
Dalam video tersebut, terlihat kendaraan alat berat membongkar bangunan liar yang berdiri di atas bantaran sungai.
Kemudian, seorang remaja perempuan muncul di atas reruntuhan bangunan yang dibongkar. "Lucu ya, katanya pembangunan tapi yang dikorbanin rakyat kecil," ungkapnya.
Remaja tersebut juga menyinggung soal larangan wisuda.
"Proyek-proyek besar terus diluncurin, mulai dari larangan motor, sekolah tanpa wisuda, bahkan bendungannya yang bikin warga terusir dari rumahnya. Katanya untuk rakyat, tapi kenapa justru rakyat kecil yang dikorbanin," lanjutnya.
Menurut remaja tersebut, sejumlah kebijakan dibuat agar sang pemimpin terlihat berbeda.
"Kadang gue tuh mikir, apa ini beneran untuk kemajuan atau cuma sekedar validasi aja biar kelihatan beda. Biar dicap hebat dari sebelum-sebelumnya," ujarnya.
Remaja tersebut menilai, dirinya harus memberikan pendapat. "Engga semua orang tuh bisa teriak, jadi gue yang bersuara. Karena diam bukan berarti rela dan ngomong bukan berarti ngelawan," tambahnya.
Belakangan diketahui, rumah remaja tersebut juga digusur. "Hari ini, hari ke-4 rumah gue digusur, mungkin besok rumah kalian juga digusur. Lihat nih, dibungkus rapi atas nama pembangunan, tapi keadilan ke mana?" ucapnya.
"Kami cuma minta satu, dihargai sebagai manusia. Karena rakyat bukan ajang buat pamer kekayaan. Dan ingat, suara yang disakiti, bisa jadi gema yang paling keras," sebutnya.
Di akhir video, terdapat kalimat yang menyinggung jabatan.
"Ingat, jabatan cuma sementara. Kalian punya kuasa, enggak punya hati. Anak-anak kecil harus lihat rumahnya dirubuhin gara-gara keputusan kalian yang duduk enak di balik meja. Jabatan kalian bakal habis, tapi trauma mereka engga akan pergi," tutupnya.
Editor : Bayu Putra