Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Pseudoscience, Ilmu Palsu yang Terlihat Ilmiah dan Konkret

Abdul Hamid Dhaifullah • Sabtu, 5 April 2025 | 22:00 WIB
Ilustrasi seorang ilmuwan terlihat lelah di meja kerjanya dengan peralatan penelitian berserakan di sana-sini. (freepik.com)
Ilustrasi seorang ilmuwan terlihat lelah di meja kerjanya dengan peralatan penelitian berserakan di sana-sini. (freepik.com)

JP Bogor – Di balik jargon teknis dan alat canggih, ada praktik yang tampak seperti sains namun kehilangan ruh keilmuannya. Astrologi, teori Bumi datar, hingga pencarian alien kuno merupakan deretan fenomena yang kerap tampil seolah-olah ilmiah, lengkap dengan istilah teknis, angka-angka rumit, bahkan perangkat canggih.

Akan tetapi, apakah semua yang tampak seperti sains benar-benar sains? Jawabannya tidak selalu.

Fenomena seperti ini disebut pseudoscience, istilah yang secara harfiah berarti ilmu palsu. Meski tampak ilmiah di permukaan, pseudoscience kehilangan komponen-komponen penting yang menjadikan sains sebagai metode pencarian pengetahuan yang sahih. Ia mungkin terdengar rumit dan meyakinkan, tetapi sering kali tidak terbuka terhadap koreksi, tidak dapat diuji, dan tidak terhubung dengan pengetahuan ilmiah yang lebih luas.

Filsuf sains, Karl Popper, pernah menyebut masalah ini sebagai "demarkasi" yaitu usaha membedakan antara sains sejati dan pseudoscience. Mengutip situs scientificamerican.com, Popper berpendapat bahwa salah satu ciri utama sains adalah falsifiabilitas, kemampuan sebuah teori untuk diuji dan dibuktikan salah.

Teori relativitas Einstein misalnya, bisa saja terbukti salah lewat pengamatan gerhana matahari pada 1919. Sebaliknya, teori-teori Freud dinilai tidak bisa dibuktikan salah karena selalu mencari pembenaran alih-alih pengujian.

Namun tidak semua praktik ilmiah mudah diuji. Teori string dalam fisika, atau riset tentang kesadaran manusia, juga belum bisa difalsifikasi secara langsung. Hal ini membuat garis pemisah antara sains dan pseudoscience semakin kabur.

Michael D. Gordin, sejarawan sains dari Princeton, mencatat bahwa tidak ada orang yang menyebut dirinya pseudoscientist. Justru, label ini sering diberikan oleh komunitas ilmiah saat mereka merasa terancam, bukan hanya oleh ide baru, tetapi oleh implikasi sosial atau politik yang dibawa ide tersebut. Misalnya, intelligent design (penciptaan cerdas) dianggap sebagai pseudoscience bukan karena sekadar salah, tapi karena mengaburkan pemahaman publik terhadap teori evolusi dan mencampuradukkan agama dengan pendidikan sains.

Ciri-ciri pseudoscience bisa dikenali lebih dalam lewat sikapnya terhadap metode ilmiah. Dijelaskan dalam situs space.com, sains sejati bersifat terbuka, skeptis, dan selalu siap berubah ketika ada data baru. Sains juga tidak berdiri sendiri; ia terhubung dengan komunitas ilmiah yang lebih besar, berkontribusi pada pengetahuan yang berkembang.

Berbeda halnya dengan pseudoscience. Pseudoscience cenderung tertutup, dogmatis, dan statis. Ia sering menolak bukti yang bertentangan, menyembunyikan metodenya, dan mengklaim kebenaran yang tak bisa diuji siapa pun. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#ilmiah #ilmu palsu #pseudoscience #sains