JP Bogor - Tidak ada alasan pasti mengapa perempuan lebih rentan menjadi korban eksploitasi seksual. Namun, objektifikasi tubuh perempuan yang masih sering terjadi berkontribusi terhadap stereotip gender yang merugikan mereka.
Salah satu dampak buruk dari stereotip gender adalah munculnya kecemasan di kalangan perempuan jika mereka merasa tidak sesuai dengan standar kecantikan yang ada, sehingga mereka cenderung melakukan berbagai cara demi memenuhi ekspektasi tersebut.
Akibat dari stereotip gender, banyak perempuan mengalami penurunan rasa percaya diri, terutama terkait citra tubuh mereka. Hal serupa juga berdampak pada anak laki-laki, yang kemudian mengasosiasikan kesuksesan dan daya tarik dengan dominasi, kekuasaan, dan agresi.
Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti di Wesleyan University menemukan bahwa mayoritas majalah dan iklan menampilkan perempuan sebagai objek seksual. Bahkan, ketika perempuan muncul dalam iklan majalah pria, mereka diobjektifikasi hingga 76 persen. Hal ini menunjukkan bagaimana media memainkan peran besar dalam membentuk stereotip dan cara pandang masyarakat terhadap perempuan.
Dilansir dari Wilton Park, berikut beberapa faktor yang berkontribusi terhadap eksploitasi seksual perempuan:
1. Norma Patriarki
Eksploitasi seksual sering kali berkaitan erat dengan budaya patriarki, yang tidak hanya merugikan perempuan tetapi juga laki-laki. Budaya ini menuntut individu untuk bertindak sesuai dengan norma sosial yang telah ditetapkan.
2. Korupsi
Dalam beberapa kasus, eksploitasi seksual terjadi karena faktor ekonomi, di mana seseorang terpaksa bekerja di industri ini demi bertahan hidup. Pemerasan yang dilakukan terhadap korban eksploitasi juga merupakan bentuk korupsi, di mana kekuasaan sering kali menentukan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan.
3. Kurangnya Dukungan Emosional
Kehadiran orang tua dalam kehidupan anak sangat penting, tidak hanya untuk memberikan arahan dan kasih sayang, tetapi juga untuk menciptakan rasa aman. Anak yang mendapatkan dukungan emosional yang cukup cenderung memiliki ketahanan yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan sosial.
Baca Juga: Oscar Versi Indonesia! Piala Citra Jadi Penghargaan Bergengsi Perfilman Tanah Air
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah