JP Bogor – Menjadi MUA (make-up artist) berarti harus siap dipanggil ke mana saja. Termasuk ke pelosok Kota Bogor. Perjalanan merias ke rumah pengantin tidak pernah semenegangkan ini bagi Diana Fisesa dan tim. Satu jam terjebak di hutan sawit tanpa penerangan. Puncaknya, salah seorang anggota tim kerasukan.
Sabtu (3/8) dini hari, Diana Fisesa berangkat bersama tiga orang timnya menuju sebuah desa di Cigudeg, Bogor. Acara pernikahan yang akan digelar pagi mengharuskannya berangkat lebih awal.
Selama perjalanan, tidak ada keanehan yang mereka dapati. Mereka berangkat seperti biasanya saat mendapat job rias. Hingga jam tangan menunjukkan pukul 02.00, mobil yang membawa rombongan tiba di perkebunan sawit.
Jalannya terbilang masih bagus. Tidak ada lubang atau hambatan lain. Namun, kondisi penerangan minim. Jalan tersebut gelap gulita. Penerangan hanya berasal dari lampu mobil.
Sorot lampu mobil yang semula cerah pun mulai berubah keputihan. Tanda kabut mulai turun. Berpasang-pasang mata penumpang di dalam mobil juga melihat jika kabut turun.
Jarak pandang yang terbatas karena kabut mengharuskan laju mobil dikurangi. ’’Di sini sudah kerasa merinding. Saya kan lagi memvideo jalan ya, tiba-tiba HP itu jatuh,’’ ujar Diana.
Berbeda ketika masuk ke perkebunan sawit, semakin dalam perjalanan, jalan semakin rusak. Yang tadinya aspal berubah jadi tanah becek berlubang dengan air sisa hujan masih menggenang.
Sepanjang jalan, hanya tampak pohon sawit di kiri-kanan. Kabut pun semakin tebal. ’’Bayangkan, jam tiga pagi di tengah hutan sawit yang gelap. Di pikiran saat itu cuma takut ada begal aja. Sedangkan perjalanan masih 11 km lagi,’’ tuturnya.
Sembari menyibak tebalnya kabut, mobil dihadapkan pada tanjakan. Di sinilah mimpi buruk Diana dimulai. Mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba tertahan. ’’Nyala, tapi digas nggak bisa maju. Coba dimundurkan, tetap nggak bisa maju, jadi kayak ada yang narik di belakang,’’ bebernya.
Tertahan di tanjakan, para penumpang berusaha tetap tenang meski rasa panik spontan menyelimuti kabin mobil. Apalagi, salah seorang penumpang berkata ada sesuatu di depan.
Ditambah lagi, dua orang sedang haid dan mereka membawa bunga melati segar untuk pengantin. Mitosnya, dua hal itu mengundang makhluk tak kasatmata.
’’Aku coba nenangin timku, tapi gangguan mulai berdatangan. Mobil digoyang-goyang, dilempari batu kerikil. Badan rasanya menggigil semua, kepala panas,’’ ungkap dia.
Diana akhirnya menghubungi pengantin. Berharap mendapat titik terang untuk keluar dari situasi mencekam itu. Sayangnya, sinyal di handphone hilang.
’’Jadi, dari jam 3 sampai jam 4 subuh kita kejebak di situ. Mobil digas bukannya maju, malah dibelokin ke kanan terus yang mana kanan itu jurang,’’ lanjutnya.
Dia sangat lega ketika akhirnya pengantin menjawab panggilannya. Mereka terus berusaha melajukan mobil sembari menunggu keluarga pengantin datang menjemput.
Namun, lagi-lagi yang ditakutkan terjadi. Salah seorang anggota tim Diana kerasukan. Jeritannya membelah hutan yang gelap.
’’Ada 10 menitan timku kerasukan. Nggak tega lihatnya. Alhamdulillah, bapaknya pengantin cepat datang dan bisa bantu keluarin,’’ sambungnya.
Bapak si pengantin turut membantu membacakan doa-doa supaya mobil tidak ditahan. Saat itu, Diana ikut turun. Dia melihat sendiri tidak ada penghalang apa pun di depan. Ban mobil hingga mesin dicek dalam kondisi baik.
’’Setelah minta izin dan dibacakan doa-doa, alhamdulillah mobil bisa jalan lagi. Kami melanjutkan perjalanan yang masih 6 km. Syukur sampai lokasi lancar,’’ kata Diana.
Pulangnya, Diana dan tim memutuskan mencari alternatif jalan lain. Mereka diantarkan adik pengantin hingga sampai ke jalan utama.
’’Pesannya, di mana pun harus tetap waspada dan permisi di tempat baru. Jangan sembarang bicara, tetap berdoa mohon perlindungan,’’ pungkas Diana. (lai/c7/son)
Editor : Bayu Putra