JP Bogor — Saat punk rock Indonesia nyaris kehilangan giginya, The Jansen datang dari Bogor dengan energi mentah, lirik lugas, dan semangat Do It Yourself yang tak bisa diabaikan. Terbentuk pada tahun 2015, The Jansen perlahan tapi pasti membuktikan bahwa punk belum mati, ia hanya sedang menyamar dalam bentuk tiga akor dan keberanian yang tak habis-habis.
Dibentuk oleh dua saudara Cintarama Bani Satria (vokal/gitar) dan Adji Pamungkas (bass), serta Aduy di drum, The Jansen memulai langkah pertamanya dengan EP "From Bogor to Japan" pada 2016. Judulnya jelas menyiratkan bahwa band ini bukan yang hanya ingin didengar di sekitar rumah. Mereka ingin musiknya menembus batas.
Rilis demi rilis mereka lancarkan tanpa jeda panjang, "Present Continuous" (2017), "Say Say Say" (2019), dan puncaknya "Banal Semakin Binal" (2022). Album Banal Semakin Binal menjadi titik balik karier mereka. Dirayakan oleh pendengar muda dan kritikus musik, album ini melambungkan nama The Jansen ke tengah arus utama tanpa harus mengorbankan identitas kasarnya.
Punk yang mereka usung memang tak bertele-tele. Terinspirasi dari Ramones, mereka menyajikan lagu-lagu pendek, cepat, dan penuh semangat, tapi jangan salah, di balik kesan ceroboh itu tersembunyi pengamatan tajam tentang kehidupan sehari-hari, absurditas sosial, dan keresahan anak muda.
Tidak heran jika "Banal Semakin Binal" akhirnya membawa mereka meraih penghargaan Album Rock Terbaik di AMI Awards, bersanding dengan nama-nama besar seperti Indra Lesmana dan Lyodra, seperti dikutip dari akun Instagram @cimahi_banget, Rabu, 12 Januari lalu.
Ironisnya, ketika popularitas sedang berada di titik tertinggi, dua personel justru hengkang. Pada Desember 2023, Aduy (drum) dan Nina Karina yang sempat bergabung sebagai gitaris dan vokalis pada 2022, resmi keluar dari band. Meski demikian, dinamika ini bukan hal baru bagi band punk. Justru dari konflik dan perubahan seperti inilah band punk menemukan arah barunya.
Meski kehilangan dua personel, semangat The Jansen tak meredup. Mereka tetap aktif tampil dan terus menulis materi baru. Di tengah gempuran tren musik elektronik dan pop sentimental, The Jansen tetap jadi suara keras dari jalanan, kotor, jujur, dan membebaskan.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah