Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Jawa Barat Masih Punya Problem Kenakalan Remaja, Dedi Mulyadi: Kedisiplinan ala Militer Harga Mati!

Rian Alfianto • Selasa, 20 Mei 2025 | 16:56 WIB
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berbincang dengan siswa saat program pendidikan karakter dan kedisiplinan di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi, Bandung, Jawa Barat, Senin (5/5/2025). (Tim Media KDM)
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berbincang dengan siswa saat program pendidikan karakter dan kedisiplinan di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi, Bandung, Jawa Barat, Senin (5/5/2025). (Tim Media KDM)

JawaPos.com – Penanganan terhadap kenakalan remaja masih menjadi salah satu fokus Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi.

Untuk membenahi masalah tersebut, Dedi membuat program pembinaan yang melibatkan unsur TNI dan Polri.

Anak-anak bermasalah di Jabar, yang masuk kriteria nakal, dikirim ke barak militer atas persetujuan orang tua untuk dilakukan pembinaan.

Dedi bahkan mengklaim bahwa kedisiplinan ala militer saat ini adalah adalah harga mati untuk kemajuan. Hal itu disampaikan Dedi saat upacara peringatan hari Kebangkitan Nasional tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2025, Selasa (20/5).

"Hari ini kita disadarkan pada sebuah peristiwa, di mana kita sering buta mata. Kita sering tuli telinga kita dan kita sering gagu lidah kita. Ketika anak-anak kita berteriak di jalanan, mengusung sangkur, membawa celurit, saling berkejaran, motor-motor dibakar, orang menjerit penuh rasa ketakutan, kita hanya bisa diam," kata Dedi Mulyadi.

Menurut Dedi, ketika anak-anak menghabiskan waktu main game online hingga pukul 04.00, tidak masuk sekolah, di rumah ngamuk, mengancam orang tuanya dengan senjata tajam, publik hanya bisa diam.

"Proses kita hanya dua, pidana dan penjarakan dalam penjara anak. Tetapi, kita tidak pernah menyadari seluruh lorong-lorong kegelisahan mereka, seluruh hiruk pikuk jalanan tak membuat mereka nyaman," tutur Dedi di hadapan para undangan.

Saat ini, ujar Dedi, lapangan-lapangan bola tergusur menjadi industri perumahan, permukiman, dan pertokoan. Anak-anak sudah kehilangan tempat bermain, kehilangan air yang jernih di sungai, sehingga tidak lagi bisa berenang.

"Mereka kehilangan gunung-gunung yang indah tempat mereka bercengkerama dengan alam. Mereka kehilangan sawah yang terhampar. Yang mereka lihat adalah kebisingan dan kebisingan," ucap Dedi.

Menurut dia, semua orang hanya memberi pengamatan, analisis, atau kajian. Termasuk para guru di sekolah-sekolah. 

"Tetapi tidak ada yang berani mengambil solusi, menganggap mereka di sudut jalanan, dimasukkan ke barak, dididik secara militer, diarahkan menjadi anak-anak yang berguna," jelas Dedi Mulyadi.

Karena itu, dedi menyatakan kedisiplinan ala militer adalah harga mati bagi kemajuan bangsa, bukan lagi musuh. Pandangan-pandangan buruk terhadap militer adalah pandangan orang yang takut anak-anak Indonesia bangkit dan mencapai kemajuan.

"Mereka takut bangsa ini menjadi bangsa kokoh dan tegap. Mereka ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa pemabuk," imbuh Dedi.

Editor : Bayu Putra
#militer #Punya #kedisiplinan #problem #harga mati #kenakalan remaja #dedi mulyadi #jawa barat