Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Ini Kriteria siswa Bermasalah yang Dikirim ke Barak Militer oleh Dedi Mulyadi, Mulai Tawuran hingga Narkoba

Zalzilatul Hikmia • Rabu, 14 Mei 2025 | 13:14 WIB
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berbincang dengan siswa saat program pendidikan karakter dan kedisiplinan di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi, Bandung, Jawa Barat, Senin (5/5/2025). (Tim Media KDM)
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berbincang dengan siswa saat program pendidikan karakter dan kedisiplinan di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi, Bandung, Jawa Barat, Senin (5/5/2025). (Tim Media KDM)

JP Bogor – Langkah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengirim siswa bermasalah ke barak militer masih terus dilanjutkan. Pemprov jabar memastikan, tidak semua siswa bermasalah akan masuk ke barak militer.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Barat Siska Gerfianti mengatakan, kebijakan itu bertujuan menekan kasus kenakalan remaja di Jawa Barat.

Meski sejatinya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) serta Open Data Jawa Barat, telah terjadi penurunan kasus kenakalan dan kekerasan remaja di Jabar dalam tiga tahun terakhir.

Rinciannya, tercatat 12.345 kasus pada 2020, kemudian turun menjadi 11.567 kasus pada 2021, dan turun lagi menjadi 10.890 kasus pada 2022.

“Memang ada penurunan jumlah kasus antara 2020 sampai dengan 2022 sebesar 12,05 persen. Namun, penurunan ini masih belum cukup signifikan,” terangnya. 

Menurut dia, kenakalan remaja di Jawa Barat merupakan masalah sosial yang kompleks dan butuh perhatian serius dari berbagai pihak. Sebab, akan berdampak nyata pada generasi muda dan stabilitas sosial. 

Berdasarkan data, jenis kenakalan remaja paling menonjol di Jawa Barat meliputi tawuran antarsekolah, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, serta tindak kriminal lainnya.

“Diperlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk penerapan kebijakan yang lebih efektif sehingga kita perlu ada solusi yang potensial,” jelas Siska. 

Salah satu langkah praktis yang diambil dalam kebijakan ini adalah penerapan program pelatihan karakter melalui pendekatan ketarunaan.

Tujuannya, memperkuat integritas, menanamkan nilai-nilai kebangsaan, serta membangun kedisiplinan dan tanggung jawab sosial di kalangan peserta didik.

Oleh sebab itu, program ini secara khusus menyasar anak-anak dan remaja yang menunjukkan potensi risiko kekerasan atau kenakalan secara konsisten.

“Tujuan lebih spesifik yaitu mewujudkan Pancawalwiya Jabar Istimewa, yaitu generasi muda yang cager (sehat), bager (berakhlak baik), benar, pintar, dan singer (tanggap),” sambungnya. 

Dia memastikan, meski anak-anak mengikuti pendidikan karakter, mereka akan tetap mendapatkan pembelajaran formal.

Rencananya, Pendidikan Karakter Panca Waluya Angkatan 1 akan diikuti oleh 272 peserta didik dari 106 sekolah.

Detailnya, 6 Sekolah Menengah Atas (SMA) Swasta, 15 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Swasta, 53 SMA Negeri, dan 32 SMK Negeri.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 30 hari, terdiri dari 2 hari masa orientasi, 14 hari pendidikan level dasar, dan 14 hari level lanjutan. Dengan jumlah level yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan capaian kompetensi perilaku peserta.

 mia

Editor : Bayu Putra
#siswa bermasalah #narkoba #barak militer #tawuran #Dikirim #dedi mulyadi #kriteria