JP Bogor - Saat ingin menikmati hidangan berbumbu kacang, kebanyakan orang mungkin langsung teringat siomay, ketoprak, gado-gado, karedok, atau batagor. Namun, Bogor menyimpan satu kuliner khas yang belum banyak dikenal luas, yaitu Doclang.
Doclang merupakan sajian tradisional yang terdiri dari potongan ketupat dan tahu, disiram saus kacang. Sekilas mirip dengan ketoprak atau kupat tahu, namun Doclang memiliki kekhasan tersendiri.
Salah satunya adalah penggunaan daun patat sebagai pembungkus ketupat, yang lazim digunakan masyarakat Bogor. Daun ini dikenal tinggi serat dan protein, serta memiliki tekstur yang lentur dan halus, cocok sebagai pembungkus makanan.
Ciri khas lain Doclang terletak pada isian tambahan berupa kentang rebus, serta sambal terpisah bagi penyuka rasa pedas. Berbeda dengan ketoprak, yang cabainya biasanya langsung diulek bersama saus kacang.
Cocok dijadikan menu sarapan, Doclang kaya akan karbohidrat yang dapat menjadi sumber energi untuk memulai hari. Rasanya pun meriah, apalagi jika disantap bersama teh hangat.
Dilansir dari Turisian, Doclang telah tercatat sebagai sebagai salah satu Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) hasil dari sidang yang dilakukan di Yogyakarta oleh tim kurasi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Provinsi Jawa-Barat pada tanggal 30 September 2022.
Kuliner khas ini sudah ada sejak abad ke-18 dan terus bertahan dari generasi ke generasi. Konon, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dahulu menetap di Istana Bogor kerap berjalan santai di sekitar Jembatan Merah, dan selalu menyempatkan diri menikmati Doclang dalam aktivitas paginya.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah