JP Bogor – Pada 20 April 1912, di tengah embusan angin perbukitan Cibatok, Bogor, lahirlah seorang perempuan yang kelak menjadi salah satu suara paling lantang dari kaum terjajah melalui pena, Suwarsih Djojopuspito.
Dikenal dengan nama kecil Tjitjih, Suwarsih Djojopuspito tumbuh di lingkungan Sunda yang hangat, sebagai putri dari Raden Bagoes Noersaid Djajasapoetra yang seorang dalang buta huruf, namun fasih dalam tiga bahasa yakni Sunda, Jawa, dan Indonesia. Mungkin dari sang ayah, Suwarsih Djojopuspito mewarisi kekuatan bercerita dan keberanian untuk menyuarakan yang tak terdengar.
Berdasarkan ensiklopedia.kemdikbud.go.id dan uinsgd.ac.id, sejak usia muda SSuwarsih Djojopuspito telah menempuh pendidikan formal yang tergolong istimewa pada masanya. Ia menapaki jenjang Sekolah Kartini, lalu MULO, hingga Europeesche Kweekschool, yaitu lembaga pendidikan Eropa untuk calon guru.
Kemampuan intelektual dan semangat emansipasi membawanya menjadi pengajar di berbagai institusi penting seperti Perguruan Rakyat, Taman Siswa, hingga Pasundan Istri. Namun, di balik peran sebagai pendidik, Suwarsih menyimpan kekuatan lain yang lebih tajam melalui tulisan.
Di era penjajahan Belanda, ketika suara rakyat dibungkam dan aspirasi nasionalisme dikebiri, Suwarsih memilih jalur pena sebagai bentuk perlawanan. Bersama sang suami, Sugondo Djojopuspito, seorang tokoh Sumpah Pemuda 1928, ia menyalurkan keresahan dan kritik sosial melalui karya sastra.
Karya magnum opus Suwarsih adalah Buiten het Gareel (1940), sebuah novel berbahasa Belanda yang menyuarakan ketidakadilan kolonial secara gamblang. Novel ini kemudian diterjemahkan dan diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul Manusia Bebas pada 1975, dan dieditori langsung oleh Suwarsih sendiri.
Karyanya bukan hanya menentang struktur kolonial, tetapi juga menyentuh persoalan perempuan, pendidikan, dan kebebasan individu. Realisme yang ditawarkan Suwarsih dalam novelnya membuat para kritikus sastra terkemuka, seperti H.B. Jassin dan A. Teeuw, tak ragu menyebutnya sebagai salah satu novelis terbesar pra-kemerdekaan.
Observasi tajamnya terhadap suasana, tokoh, dan watak digambarkan dengan kepekaan dan estetika sastra yang tinggi. Sementara Hazil Tanzil menyatakan bahwa tulisan-tulisan Suwarsih tidak hanya sastra, tetapi juga senjata dalam perjuangan politik.
Tak hanya menulis dalam bahasa Belanda, Suwarsih juga menelurkan karya dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Novel Maryanah yang ditulisnya dalam bahasa Sunda tahun 1937, sempat ditolak oleh Balai Pustaka, dan baru diterbitkan pada 1958. Selain itu, ia juga dikenal lewat cerpen-cerpen dalam kumpulan Tujuh Cerita Pendek, Empat Serangkai, Siluman Karang Kobar, dan Hati Wanita. Karya novel lainnya seperti Arlina dan Maryati membuktikan bahwa energi kreatifnya terus menyala hingga menjelang akhir hayatnya.
Aktivisme Suwarsih tak berhenti di bidang sastra dan pendidikan. Ia aktif di Komite Nasional Pusat (KNP) antara 1945–1950, dan menjadi Wakil Biro Perjuangan Bagian Wanita. Ia juga mendirikan sekolah Loka Siswa dan tergabung dalam Perkoempoelan Perempoean Soenda, memperjuangkan hak-hak perempuan Sunda untuk bersuara dan berdaya.
Suwarsih wafat pada 1976. Meski raganya telah tiada, warisan kata-katanya masih menyala. Ia adalah bukti bahwa seorang perempuan bisa menjadi guru, pejuang, penyair, dan pelawan dalam satu sosok. Dari Cibatok ia lahir, dari kata-kata ia mengubah dunia.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah