JP Bogor – Penduduk Kota Bogor pastinya sudah tidak asing dengan Jalan Sholeh Iskandar. Akan tetapi, tak banyak orang menyadari bahwa nama jalan tersebut menyimpan kisah tentang seorang pejuang besar yang pernah menggetarkan medan revolusi.
Menyadur dari situs resmi pemerintah Kota Bogor, Sholeh Iskandar bukan sekadar tokoh agama atau pendidik biasa. Ia adalah sosok langka yang menyatukan pedang dan pena, antara semangat jihad fi sabilillah dengan perjuangan mempertahankan Tanah Air. Lahir pada 5 April 1922, sosok karismatik ini menjelma menjadi komandan pasukan Hizbullah di masa revolusi, memimpin 1.000 pejuang dalam barisan Batalyon VI yang kelak dikenal sebagai Batalyon 0 Siliwangi.
Jejak langkah Sholeh Iskandar tak bisa dipisahkan dari peristiwa heroik di Leuweung Kolot, Ciampea, Bogor, tempat pasukannya berhasil meledakkan tank baja sekutu terbesar, jenis Sherman. Aksi spektakuler ini tak hanya mengguncang medan tempur, tetapi juga melahirkan simbol perlawanan rakyat yang kini dikenal sebagai Kampung Tank.
Di tengah derasnya arus sejarah, nama Sholeh Iskandar seolah mengalir tenang tidak setenar tokoh nasional lain, padahal sumbangsihnya membentang dari ujung senapan hingga ruang-ruang akademik dan diplomasi dunia.
Setelah debu revolusi mereda, Sholeh Iskandar tidak memilih beristirahat. Ia justru melanjutkan perjuangan dalam bentuk baru, membangun. Pada tahun 1950, ia mendirikan kompleks perumahan modern di Desa Pasarean, Pamijahan yang secara mengejutkan diakui UNESCO sebagai perumahan modern pertama di dunia ketiga.
Tak berhenti di sana, tahun 1960 ia mendirikan Pondok Pesantren Pertanian Darul Fallah, pesantren pertama di dunia Islam yang mengintegrasikan pendidikan agama dan keterampilan hidup berbasis pertanian. Pesantrennya menjadi purwarupa pesantren modern yang kini banyak diadopsi.
Kontribusinya merambah hingga ke ranah halal global. Pada tahun 1988, ia memprakarsai pendirian LPPOM MUI, lembaga sertifikasi halal yang kini mendunia. Di bidang ekonomi, ia turut mendirikan karoseri pertama Indonesia yang kemudian menjadi PT Gunung Tirtayasa. Ia juga menjadi motor pendirian Legiun Veteran Republik Indonesia, Bank Syariah Amanah Ummah, Rumah Sakit Islam Bogor, dan Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), menjadikan dirinya sebagai arsitek peradaban lokal yang berpikir jauh ke depan.
Sayangnya, nama Sholeh Iskandar sampai saat ini belum masuk dalam daftar resmi Pahlawan Nasional. Namun semangatnya hidup dalam infrastruktur, lembaga, dan nilai-nilai yang diwariskannya. Ia adalah panglima yang membangun peradaban dari pesantren, menanam mimpi di ladang pertanian, dan menorehkan sejarah di medan tempur. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah