Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Jejak Sejarah Istana Kepresidenan Bogor di Balik Hijau Rindang Kota Hujan

Abdul Hamid Dhaifullah • Rabu, 16 April 2025 | 07:00 WIB

Istana Kepresidenan di Bogor (Dok.  Pinterest)
Istana Kepresidenan di Bogor (Dok. Pinterest)
JP Bogor - Tanpa kita pungkiri lagi Kota Bogor menyimpan cerita masa lalu bangsa yang kaya sekaligus simbol kekuasaan negara hingga hari ini: Istana Kepresidenan Bogor. Terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 1, Bogor Tengah, istana ini menjadi salah satu dari enam istana kepresidenan Republik Indonesia. Dengan luas kompleks mencapai hampir 29 hektare, keberadaan istana ini seakan menjadi oase hijau yang menyejukkan di tengah hiruk-pikuk urbanisasi modern.

Kisah Istana Bogor dimulai lebih dari dua abad yang lalu, tepatnya pada 10 Agustus 1744, ketika Gubernur Jenderal Belanda G.W. Baron van Imhoff mencari tempat peristirahatan dari panas dan keramaian Batavia. Ia memilih sebuah kampung kecil bernama Kampong Baroe, dan setahun kemudian memerintahkan pembangunan pesanggrahan yang ia namai Buitenzorg, yang berarti "bebas dari kesulitan".

Pesanggrahan itu dirancang sendiri oleh Van Imhoff dengan meniru Blenheim Palace di Inggris. Namun, belum rampung sepenuhnya, bangunan ini hancur akibat serangan pasukan Kesultanan Banten antara tahun 1750–1754. Meski begitu, bangunan dibangun kembali oleh penggantinya, Jacob Mossel, dengan tetap mempertahankan bentuk awalnya demi menghormati nilai arsitekturnya yang unik.

Sepanjang abad ke-18 hingga 19, istana ini terus mengalami renovasi dan perluasan oleh para gubernur jenderal yang silih berganti. Di bawah kepemimpinan Willem Daendels, sayap kanan dan kiri istana ditambah dan dijadikan dua tingkat. Pada masa Thomas Stamford Raffles dari Inggris, dilakukan pemugaran besar-besaran, dan taman di sekitar istana diubah menjadi kebun bergaya Inggris.

Puncak keindahan istana diraih pada masa pemerintahan Baron van der Capellen (1817–1826), dengan pembangunan menara tengah dan penambahan satu tingkat pada gerbang istana. Tak hanya itu, ia juga merintis pembangunan Kebun Raya Bogor (Hortus Bogoriensis) yang berdiri tepat di belakang istana. Kebun ini didirikan oleh ahli botani C.G.C. Reinwardt dan menjadi salah satu pusat penelitian botani terbesar di Asia Tenggara hingga kini.

Perjalanan panjang istana berlanjut hingga era pendudukan Jepang dan kemerdekaan Indonesia. Setelah Perang Dunia II, kompleks ini sempat direbut kembali oleh pemuda Indonesia dari tentara Ghurka, hingga akhirnya diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Republik Indonesia pada akhir tahun 1949.

Sejak Januari 1950, Istana Bogor resmi digunakan sebagai kediaman dan kantor presiden. Tidak hanya itu, di sinilah banyak peristiwa penting berlangsung: Konferensi Lima Negara (1954), Jakarta Informal Meeting tentang konflik Kamboja (1988), dan KTT APEC (1994). Yang paling bersejarah tentu saja adalah penandatanganan Supersemar (11 Maret 1966) yang menjadi titik balik sejarah politik Indonesia.

Dari kejauhan, Istana Bogor tampak seperti bangunan klasik Eropa yang seakan tenggelam dalam kehijauan tropis. Halaman rumputnya yang luas ditumbuhi sekitar 100 pohon besar, beberapa di antaranya setua bangunannya. Yang paling ikonik, tentu saja, adalah sekitar 200 ekor rusa jinak yang bebas berkeliaran, keturunan dari enam pasang rusa Asia Daratan yang didatangkan sejak tahun 1811. Keindahan ini dilengkapi oleh kolam-kolam teratai dan angsa-angsa putih yang berenang tenang.

Di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, istana kembali menjadi rumah kediaman kepala negara. Sejak Mei 2015, beliau bersama keluarga tinggal di Pavilion Dyah Bayurini, sebuah paviliun asri dengan suasana tenang dan menyejukkan.

Gedung Induk istana terdiri dari beberapa ruang penting, seperti Ruang Teratai yang dipenuhi guci keramik hadiah dari Rusia dan lukisan bunga teratai karya C.L. Dake Jr., serta Ruang Garuda yang megah dengan 16 pilar gaya Korintia dan lambang Garuda Pancasila menggantung gagah di tengahnya.

Di sisi lain, sayap kiri dan kanan Gedung Induk digunakan sebagai tempat menginap tamu negara dan menteri. Sementara itu, pavilion lain seperti Amarta, Pringgondani, hingga Madukara disediakan untuk tamu agung dan pejabat istana. Istana ini juga memiliki 37 bangunan utama, masing-masing dengan fungsinya yang strategis.

Satu-satunya area yang dibuka untuk umum di dalam kompleks ini adalah Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, yang dibangun atas gagasan Presiden SBY dan diresmikan pada 18 Oktober 2014. Di museum seluas 3.211 m² ini, pengunjung dapat mengenal sejarah kepemimpinan Indonesia melalui patung para presiden, naskah proklamasi, peta digital, hingga koleksi audio visual.

Istana Bogor tidak hanya kaya sejarah dan keindahan alam, tapi juga memiliki koleksi benda seni luar biasa. Tercatat ada 448 lukisan, 216 patung, 196 keramik, dan 3.205 buku yang tersimpan di perpustakaannya.

Ini menjadikan Istana Bogor bukan hanya pusat kekuasaan, tetapi juga gudang seni dan ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Konsistensi Universitas Ibn Khaldun Bogor Membangun Generasi Beriman dan Berilmu

 

Editor : Candra Mega Sari
#kota hujan #Jejak Sejarah #istana kepresidenan bogor