UIKA Bogor lahir dari gagasan besar para tokoh dan alim ulama terkemuka seperti KH. Sholeh Iskandar, dr. Marzuki Mahdi, dan sejumlah tokoh lainnya. Kampus ini berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor, yang sejak 1987 menggantikan nama sebelumnya, Yayasan Pembina UIKA. Nama "Ibn Khaldun" sendiri diambil dari tokoh besar Muslim, Abu Zaid Abdurrahman Ibn Khaldun, perintis ilmu sosiologi, filsafat sejarah, dan politik yang karya terkenalnya, Muqaddimah, menjadi inspirasi keilmuan hingga kini.
Sebelum menjadi UIKA Bogor yang dikenal saat ini, kampus ini pernah tergabung dalam Universitas Ibn Chaldun (UIC) yang berdomisili di Jakarta. Namun pada tahun 1961, empat fakultas yang berada di Bogor memisahkan diri dan mendirikan UIKA Bogor secara mandiri.
Seiring perjalanan waktu, kampus ini terus berkembang dan mengalami berbagai transformasi struktural maupun akademik. Salah satu tonggak penting adalah munculnya gagasan Islamisasi Sains dan Kampus pada tahun 1983, yang memperkuat identitas UIKA sebagai kampus berbasis nilai-nilai tauhid.
UIKA mengusung motto "Iman, Ilmu, dan Amal." Bagi mahasiswa, niat untuk belajar di UIKA bukan sekadar demi memperoleh ijazah, tetapi untuk menuntut ilmu sebagai bekal hidup. Dosen di UIKA mengajar bukan semata mencari penghasilan, tetapi sebagai bentuk pengabdian ilmu. Bahkan para staf dan karyawan pun didorong untuk memberikan kontribusi tulus dalam menjalankan roda akademik, menjadikan UIKA sebagai kampus dengan nilai spiritualitas yang kental.
Dengan semangat itu, saat ini UIKA Bogor memiliki 6 fakultas dan 1 sekolah pascasarjana dengan total 35 program studi, yang terdiri dari: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Agama Islam, Fakultas Teknik dan Sains, Fakultas Ilmu Kesehatan, dan Sekolah Pascasarjana (dengan 6 program magister).
UIKA juga menyediakan program kelas reguler, kelas karyawan, hingga kelas internasional. Kurikulum yang digunakan berbasis Islamisasi Sains dan Kampus (ISK) dan disesuaikan dengan standar nasional DIKTI dan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM).
UIKA tak hanya eksis secara lokal. Kampus ini berhasil masuk dalam 200 besar universitas Islam terbaik dunia versi UniRank 2021 dan menjadi salah satu dari 100 kampus dengan indeks Sains dan Teknologi tertinggi di Indonesia. Selain itu, UIKA juga sudah terakreditasi institusi B, dan hampir seluruh program studi telah meraih akreditasi A atau B.
Tak hanya itu, UIKA juga menjadi pelopor berdirinya Pesantren Ulil Albab, yang merupakan program integrasi akademik dan spiritualitas. Pesantren ini menampung sarjana dari berbagai disiplin ilmu untuk lebih mendalami ajaran Islam, dengan harapan mereka menjadi profesional yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai aqidah dan syariat Islam.
Di bawah kepemimpinan Prof. Dr. H. E. Mujahidin, M.Si. sebagai Rektor saat ini, UIKA bergerak menuju universitas yang modern, terbuka, unggul, dan berakar kuat di hati masyarakat Bogor. Dalam kepemimpinannya, beliau dibantu oleh empat Wakil Rektor yang membidangi akademik, sumber daya, kemahasiswaan dan dakwah, serta kerjasama dan pengembangan inovasi.
Dengan kampus yang strategis di Jalan Sholeh Iskandar, UIKA Bogor semakin menarik minat generasi muda yang ingin mendapatkan pendidikan tinggi berkualitas sekaligus memperkuat nilai-nilai religius. UIKA hadir bukan hanya sebagai lembaga akademik, tapi sebagai rumah yang menumbuhkan karakter, pengetahuan, dan pengabdian.
Editor : Candra Mega Sari