JP Bogor – Pihak SMKN 2 Kota Bogor mengklarifikasi isu yang beredar soal dugaan penahanan ijazah siswa yang ramai di media sosial.
Klarifikasi itu disampaikan oleh Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMKN 2 Kota Bogor Rendi Gustiriyandi saat ditemui Radar Bogor Senin (13/1) siang.
Rendi menegaskan bahwa SMKN 2 Kota Bogor sama sekali tidak pernah mempersulit hal-hal yang menjadi kebutuhan siswa, termasuk soal ijazah.
“Makanya saya miris, sampai ada info FC (fotokopi) ijazah tidak dikasih gara-gara ada tunggakan. Masa iya kami lakukan itu. Kalau kami nahan, ibaratnya menyusahkan dia untuk mendapatkan pekerjaan,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari Radar Bogor.
Rendi mengatakan, jika ada ijazah yang disebut ditahan, dia memastikan bahwa ada miskomunikasi antara alumni dengan pihak Tata Usaha (TU) SMKN 2 Kota Bogor.
Sebab, menurut Rendi, dia sudah menjelaskan kepada seluruh pihak di SMKN 2 Kota Bogor terkait aturan dari pemerintah soal larangan penahan ijazah bagi sekolah negeri.
“Saya sudah jelaskan, dan memang kami tidak pernah melakukan itu. Hari ini saja kami sudah berikan kurang lebih 15 ijazah untuk para alumni” jelas Rendi.
Sementara itu, Ketua Komite SMKN 2 Kota Bogor, Firdaus tidak menampik bahwa memang beberapa waktu lalu pihaknya menggalang iuran kepada sejumlah wali murid.
Iuran yang diinisiasi oleh Komite SMKN 2 Kota Bogor itu dilakukan guna mendukung program-program sekolah yang tidak tercover bantuan dana dari pemerintah.
“Misal bantuan tambahan pemasukan untuk petugas kebersihan di sekolah, terus kemudian program-program yang berkaitan dengan akademik maupun kesiswaan,” ungkap Firdaus.
Namun Firdaus mengatakan bahwa iuran tersebut tidak sama sekali berkaitan dengan administrasi di sekolah. Sebab sifatnya tidak mengikat dan tidak dipaksakan.
Menurut Firdaus, jika memang ada orang tua yang keberatan atas adanya iuran tersebut, maka pihak komite sangat terbuka untuk bermusyawarah.
“Sehingga informasi penahan ijazah karena ada tunggakan iuran, saya pastikan itu tidak benar. Dan ternyata orang tua dari siswa tersebut tidak pernah datang saat rapat komite,” jelasnya.
Firdaus berharap jika memang ada alumni yang belum mendapatkan ijazahnya, sebaiknya langsung datang ke sekolah. Bukan malah melakukan gerakan-gerakan yang mencoreng nama baik lembaga pendidikan.
Editor : Bayu Putra