JP Bogor - Istana Kepresidenan Bogor merupakan salah satu dari enam istana kepresidenan yang ada di Indonesia. Istana ini terletak di pusat Kota Bogor, tepatnya di Jalan Ir. H. Jukamu No. 1, Paledang, Bogor Tengah, Kabupaten Bogor.
Istana Kepresidenan Bogor bisa dikunjungi oleh masyarakat luas maupun wisatawan asing. Akan tetapi, pengunjung harus melakukan permohonan perizinan terlebih dahulu kepada Kepala Rumah Tangga Kepresidenan.
Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang menjadikan Istana Kepresidenan Bogor sebagai salah satu destanasi wisata mereka. Di istana ini, pengunjung bisa masuk dan berkeliling melihat berbagai ruangan dan arsitektur bangunan istana yang megah dan mewah.
Pengunjung juga bisa berfoto-foto perlu mematuhi aturan khusus, salah satunya adalah larangan membawa kamera atau ponsel saat berada di area tertentu. Namun, jangan khawatir, karena pengunjung tetap diperbolehkan berfoto di sejumlah spot yang telah ditentukan.
Selain berfoto-foto, terdapat juga salah satu aktivitas seru dan menarik yang dapat dilakukan di Istana Kepresidenan Bogor, yakni memberi makan rusa. Aktivitas ini telah menjadi budaya warga Bogor dan sekitarnya, terutama pada hari Sabtu, Minggu, atau libur nasional.
Di balik aktivitas seru dan menarik ini, ternyata terdapat beberapa fakta menarik terkait rusa yang ada di Istana Kepresidenan Bogor. Berikut lima fakta menarik terkait rusa yang ada di Istana Kepresidenan Bogor.
1. Bukan Hewan yang Berasal dari Indonesia
Rusa totol (Axis axis) dikenal sebagai penghuni halaman Istana Kepresidenan Bogor, namun sejatinya bukan hewan asli Indonesia. Satwa ini berasal dari Asia Selatan, termasuk negara-negara seperti India, Nepal, Sri Lanka, Bangladesh, Bhutan, dan sebagian kecil Pakistan.
Rusa totol juga memiliki beberapa nama lain, seperti spotted deer, Indian deer, axis deer, hingga chital deer. Hewan herbivora ini hidup liar di habitat aslinya, terutama di kawasan hutan. Makanan utamanya berupa tumbuhan, seperti rumput dan dedaunan.
Ciri khas rusa totol adalah corak totol putih yang tersebar di kulitnya yang berwarna cokleat kemerahan, dengan garis gelap membujur di sepanjang punggungnya. Bagian perut, kaki, serta sebagian leher berwarna putih, sedangkan moncongnya tampak lebih gelap dibandingkan bagian wajah lainnya.
Rusa totol jantan memiliki tanduk bercabang tiga yang panjangnya bisa mencapai hampir satu meter. Sebaliknya, rusa totol betina tidak bertanduk. Bobot rusa di habitat asalnya, seperti India, dapat mencapai 100 kilogram, lebih berat dibandingkan dengan rusa totol yang berada di Istana Bogor.
Populasi rusa totol di Istana Kepresidenan Bogor terus bertambah, namun luas halaman istana tidak mampu menyeimbangi jumlahnya. Hal ini menyebabkan perubahan bentuk tubuh rusa totol di sana, yang cenderung lebih kecil dibandingkan rusa di habitat aslinya.
2. Sudah Ada Sejak Zaman Penjajahan Belanda
Rusa-rusa totol yang ada di Istana Kepresidenan Bogor pertama kali dibawa oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, Thomas Stanford Raffles dari daerah perbatasan India dan Nepal pada tahun 1814. Rusa totol tersebut lalu ditempatkan di area padang rumput halaman Istana.
Rusa totol ini telah menetap dan berkembang biak di Istana Kepresidenan Bogor selama dua abad lebih. Istana ini menjadi tempat yang nyaman bagi rusa-rusa tersebut karena terdapat berbagai vegetasi yang sudah ada sejak zaman Belanda, termasuk pohon dan rumput.
Keberadaan rumput di halaman Istana Kepresidenan Bogor tidak hanya mempercantik pemandangan, tetapi juga menjadi sumber makanan utama bagi kawanan rusa totol yang hidup di sana. Sementara itu, deretan pohon besar di sekitar istana, seperti beringin (Ficus benjamina), mahoni (Swietenia mahagoni), dan cengkih (Syzygium aromaticum), berperan penting sebagai tempat berteduh dan beristirahat bagi rusa-rusa tersebut.
3. Disebarkan ke Berbagai Tempat Lain
Sejak pertama kali didatangkan ke Indonesia, enam ekor rusa totol di Istana Kepresidnan Bogor terus berkembang biak hingga populasinya membeludak. Pada 2010, jumlahnya pernah mencapai 880 ekor, jauh melampaui kapasitas ideal habitatnya.
Kawasan Istana Bogor memiliki luas 28 hektare, dengan 20 hektare berupa padang rumput yang menjadi tempat hidup rusa. Sisanya adalah bangunan istana, jalan, dan taman berpagar. Padang rumput tersebut idealnya hanya mampu menampung sekitar 400 ekor rusa.
Akibat overpopulasi, ketersediaan rumput sebagai makanan pokok rusa menurun drastis. Untuk mengatasi masalah ini, pegawai istana memberikan makanan tambahan berupa tepung gandum impor dari Amerika Serikat serta ubi jalar yang telah dipotong.
Namun, langkah ini tidak cukup untuk mengelola lonjakan populasi. Sebagai solusi, pengelola Istana Bogor mulai memberikan rusa totol ke berbagai penangkaran swasta maupun pemerintah.
Beberapa lokasi yang menerima hibah ini adalah Hutan Cifor Bogor, Taman Safari Cisarua, dan Taman Monas Jakarta. Selain itu, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga pernah menerima hibah 20 ekor rusa untuk kawasan Bukit Baruga Antang di Makassar. Penangkaran lain yang menerima rusa ini termasuk Taman Kelestarian Hayati PT Semen Padang, Perta Arun Gas, dan kampus Universitas Hasanuddin (Unhas).
Penyaluran ini bertujuan untuk mengendalikan populasi rusa totol agar habitatnya tetap seimbang. Berkat langkah tersebut, populasi rusa di Istana Kepresidenan Bogor turun menjadi 713 ekor pada 2021.
4. Merupakan Hewan Liar
Meski terlihat jinak, rusa totol yang menghuni Istana Kepresidenan Bogor sebenarnya tergolong hewan liar. Hal ini disebabkan karena mereka tidak ditangkar atau dirawat secara intensif sejak lahir. Rusa-rusa ini dibiarkan bebas berkeliaran di halaman istana, memakan rumput atau tumbuhan di sekitarnya, dan minum dari kolam-kolam yang tersedia.
Naluri liar rusa totol terlihat sejak lahir. Induk rusa biasanya menyembunyikan anaknya di semak-semak untuk menghindari bahaya. Sang induk akan pergi mencari makan dan kembali kemudian untuk menyusui anaknya. Naluri pertahanan ini juga memungkinkan rusa mendeteksi kehadiran makhluk asing yang bukan bagian dari kawanan mereka.
Karena sifatnya yang waspada, rusa-rusa ini sulit didekati manusia. Pengunjung hanya dapat melihat mereka dari luar pagar istana. Meski begitu, banyak pengunjung mencoba menarik perhatian rusa dengan memberi makan wortel yang dibeli dari pedagang di sekitar istana. Jika beruntung, rusa totol akan mendekat dan terlihat "menyapa" dari balik pagar.
Baca Juga: Makam Keluarga Van Motman: Jejak Peninggalan Belanda di Bogor yang Kini Terbengkalai dan Terlupakan
5. Ikon Fauna Kota Bogor
Dengan populasinya yang mencapai ratusan, rusa totol kini tidak lagi hanya dianggap sebagai hewan asing di Kota Bogor. Kehadirannya yang memikat hati warga menjadikan hewan ini sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari identitas kota.
Pada 1995, Pemerintah Kota Bogor secara resmi menetapkan rusa totol sebagai fauna identitas kota melalui Surat Keputusan Wali Kota No. 520/SK.219-EKON/95. Rusa totol, yang akrab disebut "uncal" dalam Bahasa Sunda berarti kijang semakin dikenal masyarakat luas.
Sebagai simbol kota, patung rusa totol bahkan menghiasi beberapa lokasi ikonik di Bogor, seperti Taman Kencana, Taman Peranginan, dan Simpang Yasmin. Figur rusa ini tidak hanya memperkuat identitas Bogor sebagai kota yang lekat dengan alam, tetapi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah