Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Makam Keluarga Van Motman: Jejak Peninggalan Belanda di Bogor yang Kini Terbengkalai dan Terlupakan

Rafli Abdullah Santosa • Rabu, 4 Desember 2024 | 11:18 WIB

Mausoleum Van Motman
Mausoleum Van Motman

JP Bogor – Sepanjang sejarah Indonesia, berbagai bangsa asing telah mengunjungi wilayah Nusantara dengan beragam tujuan.

Di antara  mereka, Belanda menjadi bangsa terlama yang menduduki Indonesia, dengan masa kekuasaan sekitar 300 tahun.

Lamanya periode tersebut meninggalkan banyak jejak dan peninggalan Belanda.

Kedatangan Belanda ke Indonesia membawa banyak warga dengan tujuan beragam, dan sebagian dari mereka bahkan membangun kehidupan serta keluarga di sini. Salah satu keluarga Belanda yang pernah tinggal di wilayah Bogor adalah keluarga Van Motman. Keluarga tersebut memiliki perkebunan yang sangat luas.

Anggota pertama keluarga Van Motman yang tiba di Buitenzorg (nama Kota Bogor pada masa kolonial Belanda) adalah Gerrit Willem Casimir van Motman. Ia lahir pada 17 Januari 1773 di Genneperhuis dan meninggal pada 25 Mei 1821 di Dramaga, tempat tinggal terakhirnya.

Baca Juga: Sejarah Wisma Tamu IPB: Tempat yang Dahulu Jadi Peristirahatan Tuan Tanah Belanda

Pada usia 17 tahun, Gerrit Willem Casimir memutuskan mencoba peruntungan dengan bergabung dengan VOC, persekutuan dagang terbesar pada masa itu. Ia juga meninggalkan Belanda karena negara tersebut saat itu mengalami stagnasi akibat invasi Prancis.

Ketika bergabung di VOC, Gerrit Willem Casimir menjabati posisi sebagai administrator Gudang VOC. Namun, setelah VOC mengalami kebangkrutan, ia menjadi tuan tanah yang memiliki perkebunan dengan luas 117.099 hektar.

Tanah yang menjadi kepemilikan Gerrit Willem Casimir di antaranya meliputi daerah Semplak, Kedong Badak, Rumpin, Cikoleang, Trogong, Dramaga, Ciampea, Jambu, Nangung, Bolang, Jasinga, Pondok Gedeh, Pasar Langkap dan Rosa di Gunung Priangan, Cikandi Ilir. dan Cikandi Udik di Banten.

Gerrit Willem Casimir memanfaatkan dua wilayah miliknya, Dramaga dan Jambu, untuk mendirikan landhuis (rumah kongsi atau rumah desa Kolonial Belanda). Namun, sayangnya, tidak ada jejak yang tersisa dari landhuis di Jambu. Wilayah tersebut kemudian digunakan sebagai lokasi pemakaman keluarga Van Motman pada tahun 1811.

Baca Juga: Warga Bogor Merapat! Ini Dia 10 Spot Berburu Jajanan Lumpia Basah di Kota Hujan

Anggota pertama keluarga Van Motman yang dimakamkan di sana adalah Maria Henrietta van Motman, putri Gerrit Willem Casimir van Motman. Ia dimakamkan pada Desember 1811.

Dari 12 anak Van Motman, delapan di antaranya dimakamkan di lokasi tersebut. Sebagian besar meninggal pada usia sangat muda, di bawah lima tahun. Hanya satu anak, Petrus Cornelis, yang meninggal pada usia lanjut, yaitu 82 tahun. Ia kemungkinan merupakan salah satu anggota keluarga Van Motman yang jasadnya diawetkan melalui proses mumifikasi di pemakaman tersebut.

Selain anak-anaknya, cucu dan menantu Van Motman juga dimakamkan di sana. Salah satu cucunya, yang memiliki nama sama dengan kakeknya, meninggal pada 2 September 1831 di usia lima tahun. Menantu pertama yang dimakamkan adalah Jacoba Djiem, istri Petrus Cornelis, pada 14 Agustus 1877. Menantu kedua, Johanna Maria Louise Quentin, istri Jan Casimir Theodorus van Motman, dimakamkan pada 13 September 1855 saat usianya baru 27 tahun.

Sejak saat itu, pemakaman ini menjadi tempat peristirahatan bagi orang-orang Belanda, dengan sekitar 33 makam yang tersebar di sekitarnya. Namun, identitas sebagian besar orang yang dimakamkan di sana tidak diketahui, sehingga tidak dapat dipastikan apakah mereka adalah anggota keluarga Van Motman atau bukan.

Baca Juga: Resep Milkshake Klasik Seperti di TV yang Manis dan Lezat, Cocok Diminum saat Bersantai

Keberadaan makam Gerrit Willem Casimir van Motman sendiri juga tidak memiliki informasi yang jelas. Satu-satunya yang diketahui adalah ia meninggal pada 25 Mei 1821 di Dramaga dan dimakamkan di Jasinga. Namun, tidak ada kepastian apakah makamnya terkait dengan pemakaman yang ada di Jambu.

Informasi mengenai anggota keluarga Van Motman yang jasadnya diawetkan melalui proses mumifikasi juga tidak sepenuhnya jelas. Hingga tahun 1965, empat jasad anggota keluarga masih terlihat di dalam kotak kaca di bangunan makam tersebut.

Seperti kebanyakan pemakaman Belanda lainnya, pemakaman ini dibangun dengan indah, menggunakan batu nisan marmer dan ubin. Pemakaman ini memiliki luas sekitar 3.300 m², dikelilingi oleh pilar-pilar kokoh.

Sebuah jalan sepanjang 300 meter dengan lebar tiga meter menghubungkan kompleks makam dengan jalan utama, dihiasi oleh dua pilar tinggi yang berfungsi sebagai gerbang. Pilar-pilar ini kemudian menjadi inspirasi nama kampung di sekitarnya, "Kampung Pilar".

Baca Juga: Gula Darah Tinggi? Lakukan Cara-Cara Ini Untuk Menurunkannya

Pada 1950-an, pemakaman ini dirawat oleh seorang penjaga bernama Haji Sumatra, yang menerima upah dari keluarga Van Motman di Dramaga.

Namun, setelah Pauline Elise Laurince Marie, anggota terakhir keluarga Van Motman, meninggalkan Indonesia pada tahun 1958, pemakaman ini tidak lagi dirawat.

Akibatnya, makam menjadi terbengkalai, dijarah oleh orang-orang yang mengambil marmer, batu nisan, bahkan tulang belulang di dalamnya.

Kini, kondisi pemakaman ini sangat memprihatinkan. Bangunan tersebut mengalami kerusakan akibat vandalisme yang parah, dan area makam dipenuhi tanaman liar yang tumbuh tak terkendali.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#sejarah #bogor #belanda #keluarga #Van Motman #pemakaman