Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Tradisi Masyarakat Sunda Menyambut Hari Raya Idul Fitri, Cerminan Kearifan Lokal dan Nilai-Nilai Luhur

Muhamad Kafien Nibras • Senin, 4 November 2024 | 21:59 WIB
Ilustrasi Tradisi Nganteuran
Ilustrasi Tradisi Nganteuran

JP Bogor – Sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, agama Islam sudah menjadi komponen vital dalam berbagai budaya di Indonesia. Salah satunya yaitu pada masyarakat Sunda, yang memiliki budaya kaya yang sudah dilakukan secara turun temurun, mencerminkan kearifan lokal dan nilai-nilai luhur masyarakatnya.

Di agama Islam, Hari Raya Idul Fitri dan bulan Ramadan merupakan waktu yang mulia, yang dipenuhi dengan berkah dan rahmat dari Allah SWT. Oleh karena itu, sebagai suku yang mayoritasnya menganut Islam, suku Sunda juga memiliki tradisi yang biasa mereka lakukan menjelang waktu-waktu tersebut. Penasaran apa saja?

Dihimpun olah JP Bogor, berikut adalah beberapa tradisi menyambut Hari Raya Idul Fitri yang dilakukan masyarakat Sunda:

1. Munggahan

Menjelang kedatangan bulan Ramadan, masyarakat Sunda di Jawa Barat memiliki tradisi Munggahan. Istilah Munggahan berasal dari bahasa Sunda 'unggah' yang berarti naik, yang merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. serta upaya untuk membersihkan diri dari hal-hal negatif yang terkumpul selama setahun sebelumnya.

Munggahan dilakukan saat bulan Syakban Kalender Hijriah, beberapa hari sebelum bulan suci Ramadan. Munggahan biasa diisi dengan acara makan-makan bersama (botram), kegiatan bersih-bersih tempat ibadah, dan berziarah ke makam keluarga.

Melansir laman resmi NU Jawa Barat, dari tradisi Munggahan dapat diambil beberapa hikmah, seperti sebagai ajang mendekatkan diri kepada Allah SWT, bentuk rasa syukur, momen untuk saling memaafkan, dan ajang mempererat tali silaturahmi.

2. Ngadulag

Tradisi Ngadulag merupakan bentuk kegiatan seni yang berasal dari Jawa Barat. Ngadulag dilakukan dengan cara memukul bedug di masjid di waktu-waktu tertentu, seperti saat menjelang dan selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri. Bahkan, tradisi ini sudah dibuat sebagai ajang lomba di Sukabumi, tepatnya di daerah Bojonglopang, dimana penabuh bedug terbaik akan menjadi juaranya.

Kompetisi Ngadulag di Sukabumi ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu keindahan dan ketahanan. Pada kategori keindahan, irama dan ritme tabuhan bedug menjadi aspek utama penilaian. Sementara pada kategori ketahanan, daya tahan menabuh atau durasi menabuh bedug menjadi hal yang utama.

3. Nganteuran

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Sunda memiliki tradisi yang bernama Nganteuran. Istilah Nganteuran memiliki makna 'mengantarkan' dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pada tradisi ini, masyarakat Sunda akan saling bertukar mengantarkan makanan satu sama lain saat menjelang hari raya.

Menu-menu makanan yang biasa ditemukan saat hari raya seperti ketupat, opor ayam, kentang goreng, dan aneka kue warna-warni akan diantarkan ke orang lain, yang mempererat tali silaturahmi masyarakat. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#hari raya idul fitri #tradisi #kearifan lokal #sunda #islam