JP Bogor - Kota Bogor menyimpan kisah heroik seorang pejuang kemerdekaan bernama Tubagus Muslihat. Lahir di Pandeglang pada 26 Oktober 1926, darah bangsawan Kesultanan Banten mengalir dalam dirinya. Sejak muda, Muslihat telah menunjukkan semangat juang yang tinggi. Ia bergabung dengan Pasukan Pembela Tanah Air atau PETA, sebuah organisasi militer bentukan Jepang, dengan harapan bisa membebaskan Tanah Air.
Kala itu, Muslihat menjabat sebagai Shodancho atau setara komandan. Namun, setelah Jepang mengalami kekalahan pada Perang Dunia II, seluruh tentara PETA dipulangkan.
Pada tahun 1944, Muslihat menikah dengan seorang gadis asal Bogor bernama Kartinah. Sebelum pernikahan mereka genap satu tahun, Muslihat harus memenuhi panggilan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ia ditugaskan sebagai Komandan Kompi IV Batalyon II Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menyerang markas-markas Inggris. Saat pasukan Sekutu berusaha merebut kembali Indonesia, Muslihat bersama rekan-rekannya bertempur habis-habisan.
Salah satu pertempuran paling sengit terjadi di Bogor pada akhir tahun 1945. Dengan senjata seadanya, Muslihat dan pasukannya melawan pasukan Sekutu yang jauh lebih modern. Pertempuran terjadi di berbagai titik, termasuk di sekitar Taman Topi dan Jembatan Merah. Muslihat tak kenal takut, ia selalu berada di garis depan, memimpin pasukannya dengan gagah berani.
Namun, nasib berkata lain. Meski, tentara Inggris berhasil dipukul mundur, namun dua peluru musuh berhasil mengenai perut dari Muslihat yang kala itu berusia 19 tahun.
Adik Muslihat segera menghampiri dan menggendong kakaknya untuk keluar dari medan pertempuran. Ia kemudian dibawa ke dokter yang juga kerabatnya bernama Dr. Marzuki Mahdi. Namun sayang, nyawanya tak tertolong. Gugurnya Muslihat menjadi duka mendalam bagi bangsa Indonesia, terlebih masyarakat Bogor.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, Pemerintah Kota Bogor memutuskan untuk mengabadikan nama dari Kapten Muslihat sebagai nama jalan. Selain itu, didirikan pula patungnya pada tahun 2022 sebagai simbol keberanian dan pengorbanannya.
Editor : Candra Mega Sari