JP Bogor - Ketika berkaca di depan cermin, mungkin kamu baru akan menyadari bahwa beberapa fitur wajah tidak simetris. Misalnya, bagian mata dirasa tidak simetris atau pipi kiri tampak lebih besar, atau bahkan hidung terlihat turun sebelah.
Pada beberapa orang, wajah asimetris bisa terjadi alami sejak lahir, dan ada pula wajah asimetris karena kebiasaan tertentu. Jika wajah asimetrisnya terlihat jelas, terkadang bisa menimbulkan perasaan kurang percaya diri.
Wajah tidak simetris ditandai dengan bagian atau sisi wajah yang tidak sejajar dengan sisi lainnya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti genetik, usia, dan cedera. Selain itu, wajah asimetris juga bisa terjadi akibat penyakit tertentu.
Dilansir dari laman alodokter.com, berikut beberapa penyebab wajah tidak simetris yang umum terjadi antara lain:
1. Keturunan
Muka tidak simetris dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Jika ada anggota keluarga yang memiliki wajah asimetris, kemungkinan Anda juga bisa mengalaminya, seperti bibir yang tidak sejajar.
2. Kondisi Bawaan Lahir
Dalam beberapa kasus, ketidak-simetrisan wajah muncul karena kondisi seperti mikrosomia kraniofasial dan kelumpuhan saraf wajah bawaan. Mikrosomia kraniofasial terjadi saat separuh wajah tidak berkembang sepenuhnya, sedangkan kelumpuhan saraf wajah bisa disebabkan oleh trauma saat melahirkan.
3. Penuaan
Wajah yang mulai asimetris adalah bagian dari proses penuaan alami. Bagian tulang rawan seperti telinga dan hidung terus tumbuh, dan ini dapat menyebabkan perubahan simetris wajah seiring bertambahnya usia tanpa dampak negatif.
4. Kerusakan Kulit akibat Sinar Matahari
Paparan sinar matahari dapat merusak kulit wajah dan menyebabkan keriput, terutama jika satu sisi wajah lebih terpapar. Ini dapat mengakibatkan wajah tampak tidak simetris.
Baca Juga: 8 Jenis Tanaman yang Cocok Diletakkan dalam Ruangan untuk Suasana Rumah yang Cantik dan Asri
5. Merokok
Orang yang merokok biasanya memiliki wajah yang tidak simetris akibat paparan asap rokok dan gerakan saat merokok.
6. Gaya Hidup
Kebiasaan seperti tidur tengkurap atau bersandar pada bantal dapat menyebabkan wajah menjadi tidak simetris.
7. Pencabutan Gigi
Mencabut gigi dapat mengubah struktur wajah, menjadikannya tidak simetris. Pemasangan gigi palsu bisa membantu memperbaiki tampilan.
8. Cedera
Cedera pada wajah, seperti hidung patah, dapat menyebabkan ketidak-simetrisan.
9. Bell’s Palsy
Asimetri wajah mendadak bisa jadi tanda gangguan saraf. Bell’s palsy menyebabkan kesulitan tersenyum dan menutup mata.
10. Stroke
Stroke juga menyebabkan satu sisi wajah turun mendadak dan bisa disertai gejala lain seperti kelemahan tubuh. Ini adalah kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan segera.
Beberapa orang mungkin merasa tidak percaya diri sehingga mencari cara untuk memiliki muka yang simetris. Sayangnya tidak ada cara yang pasti untuk memperbaiki wajah asimetris secara alami.
Namun dilansir dari laman klikdokter.com, berikut cara mengatasi wajah asimetris yang bisa dilakukan antara lain:
1. Filler
Filler adalah perawatan wajah yang dilakukan dengan menyuntikkan cairan khusus untuk mengatasi wajah asimetris akibat ketidakseimbangan jaringan atau kelemahan otot. Namun, filler tidak permanen dan harus filler kembali untuk mendapatkan hasil yang bagus terus menerus.
2. Implan wajah
Bila punya muka asimetris karena struktur kerangka, mungkin prosedur implan wajah bisa dipertimbangkan. Konsultasikan prosedur ini kepada dokter kulit atau dokter bedah. Cara membuat wajah simetris dengan implan wajah dilakukan dengan memasukkan silikon, gel, atau plastik. Perawatan ini banyak dilakukan untuk menyeimbangkan bentuk dagu atau pipi.
3. Operasi
Cara agar wajah simetris juga bisa dilakukan dengan operasi. Apabila muka yang asimetris disebabkan karena hidung patah, maka bisa dilakukan operasi hidung atau rhinoplasty oleh dokter bedah. Hasil dari operasi ini bersifat permanen. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, hidung mungkin dapat memiliki bentuk seperti sebelumnya.
Sebaiknya jika ingin mengatasi wajah asimetris hendaknya mengkonsultasikan dahulu kepada Dokter agar mendapatkan penanganan terbaik dan pastinya aman. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah