JP Bogor – Sering kali kita menemukan penggunaan minyak goreng atau jelantah untuk pengolahan sajian makanan sehari-hari dan jajanan di pinggir jalan.
Namun, mengkonsumsi makanan yang diolah dengan minyak goreng terlalu sering, bisa berbahaya bagi kesehatan serta memiliki dampak buruk terhadap lingkungan. Minyak jelantah sendiri juga merupakan kategori limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya) rumah tangga.
Minyak sawit atau segala minyak goreng lainnya yang telah dipakai untuk menggoreng makanan disebut sebagai minyak jelantah. Minyak jelantah dicirikan dengan warnanya yang gelap dan berbau.
Pemakaian minyak jelantah berkali-kali dapat berbahaya bagi tubuh dan berpotensi menimbulkan ragam penyakit, termasuk kanker.
Secara komposisi, minyak jelantah ini mengandung senyawa kimia berbahaya. Antara lain dioksin, furan, dan aromatik polisiklik (PAH). Ketiga zat tersebut bersifat karsinogenik. Pemaparan minyak jelantah dalam jangka waktu yang lama akan berpotensi merusak organ tubuh.
Ditinjau dari segi lingkungan, membuang minyak jelantah ke sembarangan ke tanah, dapat membuat tanah yang dilaluinya tercemar. Minyak jelantah berpotensi menutup pori-pori tanah yang berdampak pada terhambatnya kesuburan tanah serta mengganggu ekosistem di dalamnya.
Karena itu, pembuangan minyak jelantah perlu diperhatikan. Minyak yang dibuang sembarangan ke air lepas bisa mengakibatkan terjadinya pencemaran sungai, danau, bahkan laut apabila terbawa aliran air.
Oksigen akan susah untuk masuk ke permukaan air yang terlapisi oleh minyak. Dampaknya, makhluk hidup di dalam perairan akan mati.
Belum lagi apabila minyak jelantah dibuang ke saluran air, jika ia mendingin akan terjadi pengendapan. Lalu, terjadilah penyumbatan yang menyebabkan tumbuhnya bakteri berbahaya dan kemungkinan terburuknya adalah terjadi banjir.
Parahnya lagi, minyak jelantah akan mencemari udara apabila dibakar secara sembarangan dan menimbulkan asap hitam yang mengandung zat berbahaya.
Lantas, bagaimana cara yang tepat untuk mengolah minyak jelantah, apakah minyak tersebut masih bisa bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari yang lain?
Minyak jelantah bisa diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah ekonomis dan tidak meninggalkan dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan.
Selain itu, jika ingin lebih praktis, serahkan minyak jelantah ke bank sampah atau pengepul minyak jelantah terdekat dari tempat tinggal anda. Dilansir dari laman zerowaste, minyak jelantah dapat diolah menjadi 7 olahan berikut.
- Sabun Cuci Baju
Sabun cuci baju yang dihasilkan dari minyak jelantah dapat dibuat dengan mengikuti langkah pembuatan berikut ini.
Bahan-bahan:
- Minyak jelantah
- NaOH (Natrium Hidroksida) atau soda sapi
- Jahe
- Jeruk nipis
- Daun binahong
- Air
- Cetakan
- Wadah dan pengaduk
Cara Membuat:
- Goreng jahe secukupnya dengan minyak jelantah untuk mengurangi bau tidak sedap.
- Saring minyak jelantah.
- Timbang minyak jelantah sebanyak 200 gram.
- Masukkan NaOH (soda api) sebanyak 33.6 gram ke dalam 100 ml air (jangan terbalik, jangan sampai air yang dituang ke soda api karena bisa meledak)
- Masukkan larutan NaOH ke dalam minyak jelantah sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata.
- Aduk terus hingga mengental.
- Tambahkan jeruk nipis secukupnya untuk menambah aroma.
- Tambahkan ekstrak daun binahong sebagai bahan antibakteri.
- Tuang ke dalam cetakan.
- Biarkan 3–5 hari, dan sabun siap dipakai
- Pupuk Tambahan untuk Tanaman
Minyak jelantah mengalami beberapa reaksi akibat penggorengan berulang dan menghasilkan asam lemak jenuh yang sangat tinggi. Diketahui, pertumbuhan tanaman dapat terbantu karena senyawa tersebut.
Gunakan minyak jelantah sebagai pupuk tambahan dari pupuk utama yang berupa pupuk kandang atau pupuk kompos dengan tambahan pupuk organik, antara lain urea, SP, dan KCL.
- Bahan Bakar Lampu Minyak
Anda bisa memanfaatkan minyak jelantah untuk bahan bakar lampu minyak apabila tidak ada lilin atau lampu emergency ketika listrik padam secara tiba-tiba. Berikut cara penggunaannya.
- Siapkan wadah yang tidak mudah bocor dan tahan panas, contohnya tutup kaleng biskuit atau kaleng lainnya.
- Tuangkan minyak jelantah ke dalam wadah tersebut.
- Ambil segumpal kapas dan pelintirkan seperti sumbu kompor.
- Letakkan kapas tersebut di dalam minyak. Diamkan beberapa saat hingga minyak meresap dan membasahi semua bagian kapas.
- Dan terakhir, bakar kapas tersebut dengan korek api, hingga menyala layaknya lampu minyak.
- Cairan Pembersih Lantai
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pernah menggeluti sebuah projek bernama "Karbon Milan". Dengan menciptakan cairan pembersih lantai melalui tiga tahapan.
Yakni, penjernihan minyak jelantah, pembuatan karbol, terakhir tahap pengemasan produk. Lalu, cairan pembersih tersebut dibagikan dengan aroma yang bervariasi, seperti jeruk nipis, apel, melati, dan bugenvil.
- Aroma Terapi
Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kesehatan (FPIK) di Universitas Brawijaya pernah membuat aroma terapi yang proses pengolahannya melibatkan minyak jelantah dan produknya dinamakan Mijel Natural Relaxants.
Terdapat ragam manfaat bagi tubuh yang didapatkan dari aromaterapi. Antara lain sebagai relaksasi, meningkatkan kualitas tidur, mengobati masalah pernapasan, meredakan nyeri dan peradangan, mengurangi mual, dan baik untuk pencernaan.
- Pakan Unggas
Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang pernah melakukan pembuktian dengan menjadikan minyak jelantah sebagai pakan burung puyuh.
Namun, perlu dilakukan proses pemurnian untuk melenyapkan sifat karsinogenik yang justru menjadi racun bagi burung puyuh.
Proses pemurnian akan melalui tiga tahapan. Yakni, gum, netralisasi, dan sentra pemucatan. Setelah itu, baru dapat dicampurkan pada pakan, seperti jagung, dedak, dan bungkil kelapa.
- Bahan Bakar Biosolar
Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pernah menguji bahwa minyak jelantah dapat dijadikan sebagai bahan bakar biodiesel. Lalu, disimpulkan bahwa minyak ini berkualitas tinggi karena air yang dikandungnya memiliki persentase kurang dari satu persen.
Editor : Bayu Putra