Anak muda cenderung mengikuti tren tanpa menyadari bahayanya, dan psikologi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kesenangan dan kesehatan mental sejak dini untuk mencegah dampak jangka panjang.
Melansir dari laman Geediting, berikut adalah delapan kebiasaan yang disukai anak muda, tetapi bisa merusak mental dan fisik menurut psikologi:
1. Bermain Ponsel Hingga Larut Malam
Dunia digital memang sangat menarik, terutama saat malam hari ketika seharusnya tubuh beristirahat. Banyak anak muda terjebak dalam kebiasaan menatap layar hingga lewat tengah malam, baik untuk scrolling media sosial atau menonton serial. Kebiasaan ini mengganggu siklus tidur alami dan menyebabkan mata tegang.
Cahaya biru dari layar gadget bisa mengacaukan ritme sirkadian, membuat otak mengira masih siang. Hal ini mempersulit tidur nyenyak dan mengisi pikiran dengan informasi yang tidak perlu, menciptakan "kebisingan mental" saat seharusnya otak beristirahat.
2. Melewatkan Sarapan Pagi
Kesibukan pagi sering membuat anak muda memilih langsung minum kopi dan pergi tanpa sarapan. Padahal, tubuh sudah berpuasa selama berjam-jam sejak malam dan butuh energi.
Melewatkan sarapan memperpanjang puasa, yang bisa memicu rasa lapar berlebihan di siang hari, makan berlebihan, dan kekurangan nutrisi penting. Tanpa asupan energi di pagi hari, tingkat energi akan menurun sepanjang hari dan bisa mengganggu stabilitas suasana hati.
3. Gaya Hidup Tidak Aktif
Kemudahan teknologi membuat banyak hal bisa diakses hanya dengan satu klik, mendorong kebiasaan duduk dalam waktu lama. Duduk terlalu lama dikaitkan dengan masalah kesehatan serius seperti obesitas, penyakit jantung, dan bahkan kanker.
Dampak negatifnya tidak hanya pada fisik, tetapi juga mental, dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi. Bahkan, seseorang yang rutin berolahraga pun masih bisa terkena dampak negatif jika terlalu banyak duduk. Fenomena ini disebut "sindrom kentang sofa aktif," yang menunjukkan pentingnya bergerak secara konsisten sepanjang hari, bukan hanya saat berolahraga.
4. Konsumsi Berlebihan Makanan Olahan
Burger, kentang goreng, pizza, dan minuman bersoda memang praktis dan menggugah selera, tetapi makanan ini tinggi lemak tidak sehat, gula, dan natrium. Konsumsi berlebihan bisa memicu masalah kesehatan seperti penambahan berat badan, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan diabetes.
Penelitian juga menunjukkan hubungan antara diet tinggi makanan olahan dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan. Sebaliknya, mengonsumsi makanan utuh seperti buah, sayur, protein tanpa lemak, dan biji-bijian utuh dapat meningkatkan suasana hati dan kesejahteraan mental secara keseluruhan.
5. Mengabaikan Perawatan Diri
Dalam kesibukan hidup, mudah sekali melupakan pentingnya merawat diri. Banyak yang menganggap berbagai aktivitas eksternal lebih penting daripada meluangkan waktu untuk kebutuhan pribadi. Padahal, perawatan diri bukan tindakan egois, melainkan kebutuhan dasar untuk kesehatan fisik dan mental.
Mengabaikan kebutuhan seperti istirahat, nutrisi, atau perawatan emosional hanya akan menimbulkan kelelahan dan berujung pada burnout. Meluangkan waktu setiap hari untuk melakukan sesuatu yang menyehatkan tubuh dan pikiran adalah investasi terbaik untuk diri sendiri.
6. Ketergantungan Berlebihan pada Kafein
Banyak anak muda mengandalkan kafein sebagai solusi untuk kantuk di pagi hari atau saat belajar hingga larut malam. Ketergantungan berlebihan pada kafein dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti gangguan tidur, lonjakan tekanan darah, masalah pencernaan, dan serangan panik.
Semakin banyak kafein yang dikonsumsi, semakin besar dosis yang dibutuhkan, menciptakan siklus ketergantungan yang merugikan. Mengurangi konsumsi kafein secara bertahap dan menggantinya dengan teh herbal atau air putih bisa membantu tubuh beradaptasi.
7. Mengabaikan Kesehatan Mental
Sering kali, dalam kesibukan mengejar kebugaran fisik, karier, atau studi, kesehatan mental terabaikan. Padahal, mengabaikannya dapat berujung pada masalah serius seperti gangguan kecemasan, depresi, dan penyakit terkait stres.
Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Mengintegrasikan praktik seperti meditasi atau yoga bisa menjadi langkah awal. Ketika merasa kewalahan, mencari bantuan profesional adalah langkah yang bijak dan bukan tanda kelemahan. Menerima bahwa tidak selalu harus baik-baik saja adalah bagian dari menjaga kesehatan mental yang sehat.
8. Kurangnya Aktivitas Fisik Rutin
Aktivitas fisik adalah salah satu cara paling efektif untuk memelihara kesehatan fisik dan mental secara bersamaan. Olahraga tidak hanya membantu mengontrol berat badan dan mencegah penyakit kronis, tetapi juga meningkatkan suasana hati, kualitas tidur, dan mengurangi stres.
Meskipun manfaatnya sudah terbukti, banyak anak muda yang tidak cukup bergerak. Namun, tidak perlu melakukan aktivitas berat. Perubahan kecil seperti naik tangga, berjalan kaki saat istirahat makan siang, atau menari mengikuti lagu favorit sudah dapat memberikan dampak positif yang signifikan.
Editor : Candra Mega Sari